Laporan Assei Mikrobiologi

May 21, 2010 at 2:28 pm (Mikrobiologi)

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

ASSEI MIKROBIOLOGI

Oleh:

Nama                        : I Gede Dwija Bawa Temaja

Nim                            : 0808505031

Kelompok                 : II

Tanggal Praktikum : 19 April 2010

Asisten                      : I Putu Oka Permana

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2010

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Craig., 1998). Berdasarkan sifatnya antibiotik dibagi menjadi dua; antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap bakteri dan antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri (Van Saene., 2005).

Berdasarkan mekanisme kerjanya dapat dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: pengganggu metabolisme sel mikroba (sulfonamid, trimetoprin, asam p-aminosalisilat (PAS), dan Sulfon.), penghambat sintesis dinding mikroba (penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin), pengganggu permeabilitas membran sel mikroba (polimiksin, golongan polien serta berbagai antimikroba kemoterapeutik) penghambat sintesis protein sel mikroba (golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, dan kloramfenikol), penghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba (rifampisin, dan golongan kuinolon) (Jawetz et.al. 2005).

Uji potensi antibiotika dilakukan dalam dua metode yaitu metode kertas saring (Kirby and Bauer) dan metode d’Aubert. Metode kertas saring menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan menggunakan zat-zat kimia seperti fungisida, bakterisida, dan insektisida. Dengan perlakuan fisik seperti dengan sinar UV, pemanasan yang tinggi, serta dengan perlakuan biologi seperti menggunakan mikroorganisme lain sebagai antagonis. Metode d’Aubert yaitu metode yang digunakan untuk memeriksa kadar anibiotika dalam bahan makanan sebagai bahan pengawet (Ramona dkk., 2007)

1.2 Tujuan

  1. Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam assei mikrobiologi.
  2. Untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi pada antibiotika terhadap efektifitas kerja antibiotika.
  3. Untuk mengetahui antibiotika yang tepat dalam membunuh bakteri.

II. MATERI DAN METODE

Praktikum kali ini dilakukan dengan menggunakan enam jenis antibiotik yaitu Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracyclin, Chloramphenicol, dan Ampicilin. Dalam metode kertas saring, medium NA tegak dicairkan dalam penangas air dan didinginkan sampai suhu 400 C. dua buah cawan petri disiapkan dengan bagian bawahnya dibagi menjadi empat bagian dan diberi label kontrol, 100 ppm, 1.000 ppm, dan 10.000 ppm. Sebanyak 1 ml suspensi bakteri E. coli dimasukkan ke dalam cawan petri dan 1ml suspensi bakteri Staphylococcus aureus pada cawan petri yang lainnya. Medium NA dituangkan ke dalam masing-masing cawan petri yang telah berisi suspensi bakteri, digoyangkan agar merata dan dibiarkan membeku. Cakram kertas saring yang telah direndam dalam larutan antibiotika diletakkan masing-masing pada permukaan medium yang telah membeku sesuai dengan konsentrasinya. Diinkubasi pada suhu 30-320C selama 24 jam. Diamati dan diukur daerah (zona bening) di sekitar kertas cakram. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pengukuran.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel Pengamatan Bio Assei

No Jenis Antibiotik Konsentrasi
100 ppm 1.000 ppm 10.000 ppm Kontrol
S E S E S E S E
1 Eritromycin 0 1,67 0,83 1,78 0,93 1,82 0 0
2 Amoxicilin 0 0 1,37 0 5,07 1,57 0 0
3 Bactoprim 0 0 1,73 0 2,03 1,33 0 0
4 Tetracyclin 2,1 0 2,87 0 4,27 1,35 0 0
5 Chloramphenicol 1,23 0 1,3 1,56 2,8 2,4 0 0
6 Ampicilin 0 0 2,33 0 4,00 0 0 0

Ket: S = Staphylococcus aureus, E= E. coli

3.2 Pembahasan

Praktikum assei mikrobiologi untuk menentukan keefektifan suatu antibiotik terhadap mikroorganisme dilakukan dengan menggunakan enam jenis antibiotika yaitu Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracyclin, Chloramphenicol, dan Ampicilin. Konsentrasi keenam antibiotik ini dibuat berbeda-beda yaitu mulai dari kontrol, 100 ppm,           1.000 ppm, dan 10.000 ppm untuk mengetahui pengaruh kadar antibiotik terhadap daya kerjanya. Semakin rendah konsentrasi dari antibiotik maka daya hambatnya akan semakin lemah sehingga zona yang terbentuk akan semakin kecil dan semakin tinggi konsentrasi antibiotik, maka semakin kuat daya hambatnya sehinnga semakin besar zona bening yang terbentuk (Dwidjoseputro., 2003). Jenis bakteri yang diuji dalam praktikum kali ini adalah E. coli (bakteri gram negatif) dan Staphylococcus aureus (bakteri gram positif).

Uji potensi antibiotik eritromycin menunjukkan hasil tidak adanya zona bening pada kontrol E.coli maupun Staphylococcus aureus. Sedangkan zona bening dalam konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm, dan 10.000 ppm pada bakteri E.coli berturut-turut adalah seluas     1,67 cm, 1,78 cm, dan 1,82 cm. Sedangkan pada Staphylococcus aureus berurut-turut adalah 0 cm, 0,83 cm, dan 0,93 cm. Berdasarkan data yang diperoleh ini, maka dapat disimpulkan bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk (Dwidjoseputro., 2003). Eritromycin bekerja bakteriostatis terhadap terutama bakteri gram positif. Mekanisme kerjanya yakni melelui pengikatan reversible pada ribosom kuman, sehingga sintesa proteinnya dirintangi (Tjay dan Rahardja., 2008). Akan tetapi dari hasil praktikum yang diperoleh justru menunjukkan bahwa daya hambatnya lebih luas pada bakteri E. coli yang merupakan bakteri gram negatif. Hal ini kemungkinan karena telah terjadinya resistensi bakteri Staphylococcus aureus terhadap eritromycin yang disebabkan pemberian antibiotik ini yang terlalu lama dan sering, sehingga timbul resistensi             (Tjay dan Rahardja., 2008).

Uji potensi antibiotik amoxicilin menunjukkan hasil tidak adanya zona bening pada kontrol E.coli maupun Staphylococcus aureus. Hal ini juga terjadi pada konsentrasi 100 ppm dimana pada kedua bakteri tidak terdapat zona bening. Hal ini menunjukkan bahwa antibiotik amoxicilin cenderung tidak memberikan efek daya hambat pada konsentrasi yang rendah. Pada konsentrasi 1.000 ppm telah menunjukkan adanya zona bening seluas 1,37 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan masih belum memberikan daya hambat pada E. coli. Pada konsentrasi 10.000 ppm zona bening terdapat pada E.coli maupun Staphylococcus aureus dengan luas berturut-turut adalah 1,57 cm dan 5,07 cm. Berdasarkan data ini dapat dikatakan bahwa bakteri E. coli lebih resisten terhadap aktifitas antibiotik amoxicilin dibandingkan dengan bakteri Staphylococcus aureus karena memiliki zona hambat yang lebih kecil. Hal ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa antibiotika amoxicilin secara in vitro aktif melawan sebagian besar bakteri gram positif termasuk strain yang memproduksi penisilinase dan termasuk didalamnya Staphylococcus aureus (McEvoy et al., 2002). Amoxicillin merupakan salah satu turunan penisilin yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri dengan cara mencegah penggabungan asam N-asetimuramat yang dibentuk di dalam sel ke struktur mukopeptide yang biasanya memberikan bentuk kaku pada dinding sel bakteri (Pelczar dan Chan., 2005). Mekanisme kerja amoxicillin terhadap Staphylococcus aureus adalah dengan menhambat biosintesis dinding sel, khususnya peptidoglikan (Lim., 1998) sedangkan pada E. coli jika dikenai obat ini akan membentuk tonjolan-tonjolan pada dinding selnya sehingga sitoplasma mengalir di dalamnya. Sel akan kehilangan sitoplasmanya karena lisis (Pelczar dan Chan., 2005). Hasil percobaan ini juga telah sesuai dengan pustaka yeng menyebutkan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003).

Uji potensi antibiotika bactoprim menunjukkan negatif terbentuknya zona bening pada kontrol dan konsentrasi 100 ppm pada kedua bakteri. Pada konsentrasi 1.000 ppm, terdapat zona bening seluas 1,73 cm pada bakteri Staphylococcus aureus namun belum ada zona bening pada bakteri E. coli. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening pada kedua bakteri dengan luas 2,03 cm pada Staphylococcus aureus dan 1,33 pada E. coli. Berdasarkan pustaka, maka hasil ini telah sesuai karena semakin tinggi konsentrasi, semakin besar pula zona hambatnya (Dwidjoseputro., 2003). Bactoprim mengandung Trimethoprim dan Sulfamethoxazole. Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat sintesis asam folat pada bakteri. Struktur sulfonamida mirip dengan para-aminobenzoic acid (PABA) dan bersaing dengan zat tersebut selama sintesis asam folat. Sulfamethoxazole  menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul Asam folat dan Trimetropim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari Asam dihidrofolat menjadi Tetrahidrofolat yang secara tidak langsung mengakibatkan penghambatan enzim pada siklus pembentukan asam folat (Anonim., 2010). Mikroba yang peka terhadap kombinasi antimikroba ini ialah termasuk Streptococcus aureus dan E. coli (Anonim., 2010).

Uji potensi antibiotika tetracyclin menunjukkan hasil negatif terbentuknya zona bening pada kontrol kedua bakteri. Pada konsentrasi 100 ppm terbentuk zona bening seluas 2,1 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak ada zona bening. Pada konsentrasi 1.000 ppm terdapat zona bening seluas 2,87 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak ada zona bening. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening seluas 4,27 pada Staphylococcus aureus dan 1,35 cm pada E. coli. Berdasarkan hasil ini bisa bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003). Selain itu, terlihat juga bahwa bakteri E. coli lebih resisten terhadap pemberian antibiotik tetracyclin karena diameter zona hambatnya lebih kecil. Dengan kata lain, tetracyclin lebih efektif untuk bakteri Staphylococcus aureus. Hasil ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa tetracyclin adalah salah satu antibiotika yang aktif melawan bakteri strain Staphylococcus dan bakteri E. coli merupakan salah satu jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik ini (McEvoy et al., 2002). Tetracyclin merupakan antibiotik berspektrum luas yang dapat menghambat sintesis protein. Tetracyclin memasuki mikroorganisme melalui difusi pasif dan sebagian melalui suatu proses transport aktif yang bergantung pada energi (Katzung., 2004). Mekanisme kerja dari tetracyclin adalah menghambat sintesis protein pada mikroba yang rentan  terhadap tetracyclin dengan cara menghambat ikatan aminoasil tRNA pada ribosom (McEvoy et al., 2002).

Uji potensi antibiotik pada chloramphenicol menunjukkan hasil negatif terbentuknya zona bening pada kontrol kedua bakteri. Pada konsentrasi 100 ppm terbentuk zona bening seluas 1,23 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak ada zona bening. Pada konsentrasi 1.000 ppm terdapat zona bening seluas 1,3 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli seluas 1,56 cm. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening seluas 2,8 pada Staphylococcus aureus dan 2,4 cm pada E. coli. Berdasarkan hasil ini bisa bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003). Dari hasil ini juga dapat dilihat bahwa chloramphenicol cukup efektif dalam menghambat pertumbuhan kedua bakteri. Hal ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa chloramphenicol merupakan antibiotik bakteriostatik berspektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif (Katzung., 2004). Mekanisme kerja dari chloramphenicol dalam melawan bakteri adalah dengan cara menghambat sintesis protein dengan cara berikatan dengan subunit 50s ribosomal dan berefek pada penghambatan pembentukan ikatan protein (McEvoy et al., 2002).

Uji potensi antibiotik pada ampicilin menunjukkan hasil negatif terbentuknya zona bening pada kontrol dan pada konsentrasi 100 ppm dari kedua bakteri. Pada konsentrasi 1.000 ppm terdapat zona bening seluas 2,33 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak terdapat zona bening. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening seluas 4 cm pada Staphylococcus aureus dan tidak ada zona bening  pada E. coli. Berdasarkan hasil ini bisa bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003). Dari hasil ini juga dapat disimpulkan bahwa antibiotik ampicilin ini tidak efektif terhadap bakteri E. coli karena tidak adanya zona bening yang terbentuk pada selurug konsentrasi. Hal ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa ampicilin merupakan penisilin tahan asam dengan spektrum kerja yang luas meliputi banyak kuman gram negatif, efektif terhadap E. coli, H. influenza, Salmonella dan beberapa suku Proteus (Tjay dan Rahardja., 2008). Bakteri Staphylococcus aureus sebenarnya merupakan salah satu jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik ampicilin (Mc Evoy et al., 2002). Namun, apabila dibiakkan secara in vitro maka akan terjadi hal yang sebaliknya yaitu bakteri Staphylococcus aureus menjadi sedikit rentan terhadap antibiotik ampicilin                       (Mc Evoy et al., 2002). Perbedaan ini kemungkinan juga disebabkan karena terjadinya resistensi bakteri E. coli terhadap ampicilin yang disebabkan pemberian antibiotik ini yang terlalu lama dan sering sehingga timbul resistensi (Tjay dan Rahardja., 2008).

IV. KESIMPULAN

  1. Metode yang digunakan dalam assei mikrobiologi adalah metode kertas saring (Kirby dan Bauer) dan metode d’Aubert.
  2. Pengaruh komsentrasi antibiotika terhadap pertumbuhan bakteri adalah semakin besar konsentrasi dari antibiotika maka kemampuan antibiotika untuk menghambat atau membunuh bakteri akan semakin besar (efektifitas kerja antibiotia meningkat).
  3. Antibiotik yang dapat digunakan untuk membunuh bakteri antara lain adalah Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracyclin, Chloramphenicol, dan Ampicilin.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2010. Kombinasi Antimikroba.

Available at  : http://www.medicastore.com/antibiotika/kombinasi_antimikroba.

Last opened  : 24 April 2010.

Craig, W.A. 1998. Choosing An Antibiotic On The Basis of Pharmacodynamics. Ear NoseThroat J. New England.

Dwidjoseputro, D. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.

Jawetz, Melnick, Adelberg’s. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta.

Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Lim, D. 1998. Microbiology 2nd Edition. McGraw Hill. United of States America.

Mc Evoy, G.K., J.L. Miller, J. Shick and E.D. Milikan. 2002. AHFS Drug Information. American Society of Health: USA.

Pelczar, M., E.C.S. Chan. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Tjay, Tann Hoan., Rahardja, Kirana. 2008. Obat-Obat Penting. Penerbit Elexmedia Komputindo. Jakarta.

Van Saene, H.K.F, Silvestri L, De la Cal MA. 2005. Infection Control In The Intensive Care Unit. 2nd ed. Springer. Milan.

Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Untuk Program Studi Farmasi F MIPA UNUD. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Jimbaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: