Laporan Sterilisasi

May 21, 2010 at 2:47 pm (Mikrobiologi)

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

STERILISASI

Oleh:

Nama                        : I Gede Dwija Bawa Temaja

Nim                            : 0808505031

Kelompok                 : II

Tanggal Praktikum : 22 Maret 2010

Asisten                      : Agus Brahmantra P.

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2010

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam dunia kesehatan, sterilisasi sangatlah penting dilakukan untuk memberikan efek terapeutik yang maksimal. Steril artinya bebas dari segala mikroba baik patogen maupun tidak (Entjang, 2003). Sterilisasi merupakan suatu proses membebaskan suatu peralatan atau bahan dari mikroorganisme yang tidak dikehendaki (Ramona dkk, 2007). Proses ini melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme (Pratiwi, 2008).

Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Pemilihan mekanisme sterilisasi yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan sifat bahan yang akan disterilkan. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan pemanasan, penggunaan sinar UV, sinar X, dan sinar-sinar yang memiliki panjang gelombang pendek (Ramona dkk, 2007).

Sterilisasi secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti alkohol, desinfektan, formalin, dsb (Ramona dkk, 2007). Bahan kimia yang baik adalah yang memiliki kemampuan membunuh mikroba secara cepat dengan dosis yang rendah tanpa merusak bahan atau alat yang disterilkan. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Sterilisasi dengan swab dilakukan untuk mengetahui jumlah mikroba pada permukaan tubuh (Waluyo, 2004)

1.2 Tujuan

  1. Untuk mengetahui fungsi dari sterilisasi.
  2. Untuk mengetahui metode-metode yang digunakan untuk sterilisasi.
  3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan sterilisasi secara fisika dan secara kimia.
  4. Untuk mengetahui ada tidaknya mikroba pada tubuh dengan swab.

II. MATERI DAN METODE

Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan sinar UV. Langkah pertama adalah menuangkan medium NA tegak ke dalam 3 buah cawan petri dan dibiarkan membeku. Penuangan ini dilakukan dekat dengan api untuk meminimalisasi kontak dengan mikroba dari lingkungan. Setelah Nutrien Agar membeku biarkan kontak dengan udara, barulah cawan petri tersebut disinari dengan sinar UV selama 1 menit dan 3 menit pada cawan yang berbeda. Sisa cawan digunakan sebagai kontrol yaitu bahan atau alat yang tidak mendapatkan perlakuan apapun dan digunakan sebagai pembanding. Setelah di sinari dengan UV, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370 C dalam keadaan terbalik. Diamati pertumbuhan mikroba di sekitar media.

Sterilisasi secara kimia menggunakan bahan kimia yaitu detol, karbol, dan obat kumur, serta menggunakan alkohol dengan konsentrasi yang berbeda (40%, 70%, 96%). Langkah pertama adalah menuangkan medium NA tegak ke dalam 2 buah cawan petri dan dibiarkan membeku. Stelah membeku, cawan petri dibalik dan dibagi menjadi empat bagian ditandai dengan spidol dan diberi label untuk 3 bahan kimia serta kontrol dan 3 konsentrasi alkohol beserta kontrolnya. Sementara itu, tiga buah jarum pentul dimasukkan ke dalam masing-masing satu jenis bahan kimia dan alkohol. Jarum diambil dengan pinset dan diletakkan dalam cawan yang telah dibagi menjadi empat bagian. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 28-300 C barulah diamati pertumbuhan mikroba di sekitar media.

Untuk sterilisasi secara kimia dengan sabun, medium NA tegak dicairkan kemudian dituang ke dalam 3 buah cawan petri dan dibiarkan membeku pada suhu kamar. Pada cawan pertama, diapuskan jari tangan yang belum dicuci pada medium NA. Pada cawan kedua, medium diapuskan dengan jari tangan dari orang yang berbeda yang sebelumnya telah mencuci tangannya menggunakan sabun nuvo (sabun A) dan dibiarkan mengering tanpa di lap. Hal serupa diulang kembali untuk cawan petri ketiga, hanya sabunnya diganti menjadi sabun lifeboy (sabun B). Pola pengapusan tangan pada medium membentuk garis zigzag agar terlihat bakteri yang ada pada medium.

Untuk pemeriksaan dengan metode swab, mula-mula medium NA tegak dicairkan kemudian dituangkan ke dalam cawan petri yang telah disterilkan. Medium NA dibiarkan membeku pada suhu kamar. Setelah itu cotton bud dicelupkan ke dalam air steril selama 1 menit kemudian diapuskan pada permukaan kulit tangan dan apuskan kembali pada medium di dalam cawan petri membentuk pola garis zigzag. Hal serupa diulang kembali dengan cotton bud diapuskan masing-masing ke bagian pipi dan belakang telinga. Pada saat cotton bud diapuskan pada permukaan medium dalam cawan petri, cawan petri dibuka pelan-pelan dan didekatkan pada nyala api agar tidak terkontaminasi mikroba. Ketiga cawan kemudian diinkubasi pada suhu 28-300 C. Mikroba yang tumbuh dalam cawan petri diperhatikan setelah 24 jam.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan Sterilisasi

No. Sterilisasi Perlakuan Pertumbuhan Mikroba
I II III
1 UV Kontrol _ + + + + + +
1 Menit + + + + +
3 Menit + + +
2 Zat Kimia Kontrol + + + + + + + + +

Alkohol

40 % _ + + _
70 % _ + + _
96 % _ _ +
3 Bahan Kimia Kontrol + + + + + +
Karbol + + + + _
Detol + + + + _
Obat Kumur + _ +
4 Sabun Kontrol + + + + + + + + +
Sabun A (Nuvo) + + + + + +
Sabun B (Lifeboy) + + + + +
5 Mikroba Tubuh Pipi + + + + + +
Tangan + + + +
Telinga Belakang + + + + + + +

Keterangan:

–           = tidak terdapat bakteri

+          = sedikit bakteri

++        = jumlah bakteri sedang

+++     = jumlah bakteri banyak

3.2 Pembahasan

Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan sinar UV, dimana sinar UV ini merupakan penetrasi udara yang efektif untuk mengurangi dan menginaktifkan mikroorganisme. Keefektifan sinar UV bisa hilang jika digunakan terlalu berlebihan dan tidak dikontrol. Oleh karena itu lama penyinaran harus sesuai dengan alat atau bahan yang akan disterilkan. Semakin lama disinari dengan UV maka jumlah bakteri akan semakin sedikit karena sinar UV menghambat proses replikasi dengan cara merusak DNA bakteri sehingga pertumbuhan bakteri terhambat (Melnick dan Adelberg’s, 2005). Jika radiasi melewati sel, akan menyebabkan terbebasnya hidrogen, radikal hidrogen (OH), beberapa peroksida, serta mendenaturasi protein dan asam nukleat sehingga mengakibatkan kerusakan interselluler pada sel bakteri (Ramona dkk, 2007). Pada praktikum kali ini telah didapatkan hasil yang sesuai dimana dari tiga kali data pengulangan, didapatkan dua data yang menunjukkan bahwa dengan disinari sinar UV dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Hal ini bisa dilihat pada kontrol yang tidak disinari UV terdapat paling banyak mikroba, dengan disinari UV selama 1 menit terdapat mikroba dalam jumlah yang sedang dan dengan disinari selama 3 menit paling sedikit tumbuh mikroba. Adanya perbedaan data pada satu pengulangan disebabkan karena walaupun sinar UV ganas terhadap mikroba tetapi daya tembusnya kurang sehingga hanya dapat mematikan mikroba pada permukaan (Entjang, 2003) dan dapat juga disebabkan oleh karena kesalahan saat membuat medium pada kontrol yang terlalu dekat dengan nyala api, sehingga tidak ada bakteri yang mengkontaminasi medium.

Sterilisasi secara kimia dilakukan dengan menggunakan alkohol berbagai konsentrasi yaitu 40 %, 70% dan 96%.  Pada praktikum kali ini didapatkan hasil bervariasi dalam jumlah bakteri pada tiap-tiap konsentrasi alkohol, akan tetapi bisa dilihat persamaan yakni alkohol bisa menghambat pertumbuhan bakteri. Dapat dilihat pada kontrol terdapat paling banyak mikroba sedangkan yang menggunakan alkohol semakin sedikit dan bahkan tidak ada sama sekali mikroba. Hal ini karena mekanisme aksi alkohol sebagai disinfektan dengan cara melarutkan lipid pada membran sel mikroorganisme dan juga mendenaturasi protein yang dimiliki oleh mikroorganisme tersebut (Pratiwi, 2008). Alkohol merupakan senyawa dengan struktur R-CH2OH bersifat racun terhadap sel pada konsentrasi yang relatif tinggi. Konsentrasi optimal alkohol adalah pada 70-80%, dan konsentrasi alkohol antara 60-90% terlihat lebih cepat membunuh mikroorganisme (Pratiwi, 2008). Hal ini disebabkan karena pada proses denaturasi protein diperlukan adaanya air (Pratiwi, 2008). Akan tetapi terdapat sebuah data pengulangan yang justru pada konsentrasi 96% tidak terdapat mikroba sedangkan pada konsentrasi di bawahnya (40% dan 70%) terdapat bakteri dalam jumlah sedikit. Hal ini kemungkinan disebabkan sudah terkontaminasinya medium atau bahan dengan bakteri lain. Meskipun mampu mensterilkan alat-alat dan bahan, alkohol tidak cocok digunakan pada kulit sebab alkohol hanya membunuh sel vegetatif mikroorganisme di atas permukaan kulit tetapi tidak membunuh endospora, sel resisten atau sel yang lebih dalam yang berada di pori-pori kulit. dengan ini alkoholnya dapat menghambat pertumbuhan mikroba tetapi tidak dapat mensterilkan kulit (Dwidjoseputro, 2003).

Sterilisasi secara kimia dengan menggunakan antibakterial yaitu detol, karbol, dan obat kumur. Dari dua data percobaan didapatkan hasil bahwa mikroba tumbuh lebih banyak pada kontrol sedangkan pada medium yang diberi antibakterial, mikroba sedikit tumbuh bahkan tidak ada yang tumbuh. Hal ini telah sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa penggunaan antibakterial mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Akan tetapi terdapat penyimpangan pada satu data pengulangan dimana mikroba justru tumbuh pada medium yang berisi detol dan karbol. Hal ini tidak sesuai sebab pada karbol mengandung senyawa aktif berupa pine oil 2,5 % dimana pine oil itu sendiri mengandung minyak atsiri turunan fenol yang bersifat germisida yang prinsip daya kerjanya dapat mendenaturasi protein (Entjang, 2003). Sedangkan pada detol mengandung chloroxylenol (C8H9C1) dan isopropanol yang aktif 98% efektif membunuh bakteri gram positif dan negatif dalam waktu 15 detik dengan mendisrupsi membran sel dan menghambat pembentukan adenosine triphosphate. Begitu juga dengan obat kumur mengandung povidone iodine 1% yang merupakan senyawa antiseptik yang mampu menginaktivasi atau mematikan mikroorganisme secara kimia (Pratiwi, 2008). Penyimpangan ini disebabkan karena pada saat pemindahan ke media terlalu dekat dengan api spiritus sehingga sedikit tidaknya bakteri yang ada telah mati akibatnya pada kontrol, jumlah bakterinya sedikit.

Sterilisasi dengan menggunakan sabun dilakukan dengan menggunakan dua sampel sabun yaitu Nuvo (Sabun A) dan Lifebuoy (Sabun B). Pada pengujian ini, data sabun dibandingkan dengan kontrol dimana pada kontrol terdapat jumlah mikroba yang banyak sedangkan dengan menggunakan sabun A dan B hanya terdapat mikroba dalam jumlah sedang. Hal ini terjadi karena pada sabun terdapat ikatan antara natrium atau kalium dengan asam lemak tinggi dan bersifat germisida sehingga dapat menyebabkan penurunan tegangan permukaan pada mikroba, akibatnya mikroba mudah terlepas dari kulit (Entjang, 2003). Terlebih lagi pada sabun nuvo mengandung bahan aktif TCC dan triclosan sedangkan pada sabun lifebuoy terkandung Pipper Betle Leaf Oil dimana semua senyawa aktif tersebut bersifat antiseptik yaitu zat-zat yang dapat membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup (Anonim, 1979).

Sterilisasi dengan menggunakan swab bertujuan untuk mengetahui jumlah mikroba yang terdapat pada permukaan tubuh khususnya pada daerah pipi, tangan dan belakang telinga. Pada hasil praktikum didapatkan data bahwa bakteri ternyata tumbuh paling banyak pada daerah belakang telinga. Hal ini disebabkan karena bagian-bagian tersebut jarang terkena sinar matahari sehingga suhu bagian tubuh tersebut lebih lembab dibandingkan bagian tubuh yang lain dan tempatnya yang tersembunyi. Akan tetapi terdapat sebuah data yang menunjukkan pertumbuhan mikroba paling banyak pada daerah pipi. Hal ini terjadi karena struktur kulit setiap orang berbeda-beda sehingga kemungkinan tempat tumbuh mikroba itupun juga bisa berbeda.

IV. KESIMPULAN

  1. Sterilisasi berfungsi untuk membebaskan peralatan atau bahan dari mikroorganisme yang tidak dikehendaki.
  2. Metode-metode sterilisasi yang digunakan yaitu sterilisasi secara fisika (sinar UV), secara kimia (dengan menggunakan alkohol, antibakterial,sabun) dan sterilisasi dengan swab.
  3. Keefektifan sterilisasi dengan sinar UV dalam membunuh mikroba dipengaruhi oleh intensitas penggunaannya yang sesuai dengan bahan atau alat yang disterilkan. Keefektifan sterilisasi dengan bahan-bahan kimia dipengaruhi oleh waktu perendaman, temperatur media, PH, dan konsentrasi zat kimia.
  4. Sterilisasi dengan swab menunjukkan bahwa jumlah mikroba paling banyak pada belakang telinga. Hal ini disebabkan bagian tubuh tersebut jarang terkena sinar matahari, sehingga suhu bagian tubuh tersebut lebih lembab dibandingkan bagian tubuh yang lain dan tempatnya yang tersembunyi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Dwidjoseputro, D.2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta

Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Jawetz,E., J. L. Melnick, dan E.A. Adelberg. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta.

Pratiwi, Sylvia T.2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga.Bandung

Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Program Studi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi F. MIPA UNUD. Bukit Jimbaran.

Waluyo, Lud. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: