The Boy Who Lived (Part One)

May 24, 2010 at 5:47 pm (Story)

The boy who lived, hm… mungkin kalimat ini identik dengan suatu tokoh fantasi karangan mbak J.K Rowling. Tapi ini cerita bukan tentang Harry Potter dan segala macam sihirnya, bukan pula tentang Heri Puter (versi indonesia). Cerita ini tentang kisah seorang anak biasa, dari keluarga yang biasa-biasa juga, dengan kemampuan yang biasa dan terlihat biasa-biasa saja. Cerita ini adalah cerita biasa seorang bocah laki-laki yang bertahan hidup karena memang belum waktunya untuk berhenti hidup.

Seberkas sinar mentari mulai memasuki sebuah ruang yang gelap, merayap dan membangunkan semua orang yag berada di dalamnya. Hangatnya sinar tersebut seakan sebuah pertanda bagi sepasang suami-istri yang sedang menantikan kehadiran seorang buah hatinya. Detak jam pun berdentang memulai kegelisahan tersebut. Suatu perasaan gembira serta takut mengiringi persalinan tersebut. Akan seperti apakah anak tersebut? Bagaimana nanti kami menamakannya? Pikiran-pikiran tersebut kini menggelayuti sang suami yang sedang menunggu kelahiran anaknya tersebut. Perasaan gembira tersebut kini berubah menjadi sedikit rasa cemas, bagaimana nanti kami membiayai kehidupannya??.

Benar, Pak Yasa bukanlah seseorang dengan kekayaan yang melimpah. Ia bukan juga seorang pejabat pemerintahan yang punya kekuasaan luas. Ia hanyalah seorang laki-laki biasa yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta. Dengan bermodalkan sebuah vespa tua, ia berusaha untuk menafkahi keluarganya. Seorang pegawai negeri golongan rendah yang gajinya hanya cukup untuk sekedar mengepulkan asap dapur. Istrinya juga hanyalah bekerja sebagai pegawai honorer di sekolah swasta yang berbeda. Gajiku tidaklah seberapa, untuk makan saja susah, gimana nanti bisa membahagiakan anakku nanti. Pemikiran tersebut menggelayut bak awan hitam yang menghiasi pagi tersebut. Dilihatnya dompet kulit kepunyaannya yang sudah usang, hanya ada beberapa lembar uang sepuluh ribu dan uang receh terselip diantaranya. Tidak sengaja perhatiannya teralihkan pada sebuah foto Polaroid yang ada pada dompetnya. Dilihatnya foto tersebut dengan seksama, seberkas senyum kecil kini menghiasi bibirnya. Foto tersebut adalah fotonya dengan Suratni, istrinya, ketika masih berpacaran dulu.  Sungguh bahagia perasaanya ketika mengingat kembali kenangan tersebut. Saat mereka saling berjanji setia dalam susah maupun senang dengan ikatan perkawinan sebagai saksinya. Tiba-tiba ia pun menjadi malu, malu pada dirinya sendiri.

Bodoh, kenapa aku malah berpikiran tak akan sanggup membahagiakan anakku nanti? Kami bisa bahagia meskipun dengan materi yang pas-pasan. Kalau aku tak bisa membahagiakan lewat materi, lewat kasih sayanglah yang akan kuberikan. Ya benar, hanya kasih sayang yang dapat membahagiakannya. Wah betapa bodohnya aku tadi. Kini setumpuk harapan mulai bangkit dalam dadanya, ia bertekad untuk berusaha keras membahagiakan anaknya nanti. Ia pun beranjak berjalan mendekati pintu ruang persalinan. Mengintip sedikit lewat celah-celah pintu yang terbuka. Dilihatnya istrinya tengah kesakitan dibantu beberapa perawat untuk melahirkan.

Kasihan istriku, demikian dipikirannya. Anakku nanti kelak harus bisa menjadi orang yang sukses, biar ga kayak aku ini hanya tamatan sarjana muda, jadi pegawai hanya bisa golongan rendah. Aku harus bisa menyekolahkan anakku setinggi mungkin, harus pokoknya. Kalau anakku ini perempuan, aku ingin ia mewarisi sifat istriku, sabar, setia dan juga penuh kasih sayang. Kalau bisa juga cantikknya harus kayak ibunya. Ia pun tertawa di dalam hatinya membayangkan anaknya nanti. Tapi kalau lahirnya laki-laki, ia harus mampu bekerja keras dan punya semangat juang yang tinggi. Ku ingin ia punya kemampuan yang lebih untuk mengangkat keluarga ini menjadi lebih baik. Hm, masalah wajah harus mirip cover boy seperti aku ini tapi kalo bisa juga biar ga ngewarisin kulit hitamku. Ia pun tertawa sekali lagi membayangkan bagaimana anaknya tersebut lahir nanti.

Resah gelisah makin lama makin menguasai Pak Yasa, ia tidak tahan melihat istrinya yang tengah berjuang sendiri menahan rasa sakit. Ia bolak-balik duduk dan berdiri lagi sambil melihat jam dinding yang tergantung di dekat pintu ruang persalinan. Lama rasanya sudah ia menunggu, sampai akhirnya seorang perawat keluar dari ruang persalinan dan mendatanginya.

“selamat pak, anaknya laki-laki dan sehat”, kata perawat tersebut.

“bagaimana dengan keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja?, tanya Pak Yasa terburu-buru.

“tenang pak….tenang… istri anda baik-baik saja, hanya sedikit kecapekan saja, mari silahkan pak masuk untuk melihat kondisi anak dan istri bapak”

“wah… terima kasih ya suster, terima kasih banyak”, kata Pak Yasa berseri-seri.

“iya sama-sama pak, memang sudah kewajiban kami membantu anda”, balas sang perawat.

Pak Yasa pun berjalan menuju ranjang tempat istrinya terbaring bersama bayinya. Istrinya hanya bisa tersenyum sedikit melihat kedatangannya.

“istirahatlah dulu, kamu kecapekan seperti itu, terima kasih ya karena telah memberikan seorang anak laki-laki yang tampan sepertiku ini, hehehehe . . .”

Istrinya hanya bisa membalas lewat senyuman dan genggaman tangan. Perlahan Pak Yasa menggendong putranya tersebut. Anak tersebut memiliki kulit putih dengan bobot yang cukup berat. Pipinya mirip seperti ibunya dengan alis mata yang tebal serta bibirnya yang tipis. Pada anak ini aku berharap, pada anak ini pula akan kupertaruhkan seluruh hidupku, dan pada anak inilah impianku kusematkan.

Ia pun lalu mengecup kening istrinya dan berkata, “Anak ini akan kunamakan Satria Suputra agar ia mempunyai jiwa yang pemberani namum tetap menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya”.

Istrinya hanya mengangguk dan disambut pelukan oleh Pak Yasa sambil menggendong putranya. Begitulah, tepat pukul 9 pagi, Satria lahir kedunia ini dengan menanggung harapan dan impian yang disematkan ayahnya untuknya. Harapan yang sudah ada bahkan sebelum ia bisa membuka matanya. Ia hanyalah anak biasa, bukan anak dengan kemampuan super atau sihir yang bisa menjadikannya seorang ksatria seperti namanya. Akan tetapi, dengan kasih sayang, harapan dan impian yang dibebankan di pundaknya, Satria kecil pun mulai membuka mata untuk pertama kalinya lalu menatap sinar-sinar hangat sang mentari.

Dari sinilah cerita ini dimulai, Satria bukanlah anak laki-laki yang bertahan hidup, tapi anak laki-laki yang harus bertahan hidup untuk mewujudkan harapan dan impiannya.

Bersambung . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: