The Boy Who Lived (Part One)

May 24, 2010 at 5:47 pm (Story)

The boy who lived, hm… mungkin kalimat ini identik dengan suatu tokoh fantasi karangan mbak J.K Rowling. Tapi ini cerita bukan tentang Harry Potter dan segala macam sihirnya, bukan pula tentang Heri Puter (versi indonesia). Cerita ini tentang kisah seorang anak biasa, dari keluarga yang biasa-biasa juga, dengan kemampuan yang biasa dan terlihat biasa-biasa saja. Cerita ini adalah cerita biasa seorang bocah laki-laki yang bertahan hidup karena memang belum waktunya untuk berhenti hidup.

Seberkas sinar mentari mulai memasuki sebuah ruang yang gelap, merayap dan membangunkan semua orang yag berada di dalamnya. Hangatnya sinar tersebut seakan sebuah pertanda bagi sepasang suami-istri yang sedang menantikan kehadiran seorang buah hatinya. Detak jam pun berdentang memulai kegelisahan tersebut. Suatu perasaan gembira serta takut mengiringi persalinan tersebut. Akan seperti apakah anak tersebut? Bagaimana nanti kami menamakannya? Pikiran-pikiran tersebut kini menggelayuti sang suami yang sedang menunggu kelahiran anaknya tersebut. Perasaan gembira tersebut kini berubah menjadi sedikit rasa cemas, bagaimana nanti kami membiayai kehidupannya??.

Benar, Pak Yasa bukanlah seseorang dengan kekayaan yang melimpah. Ia bukan juga seorang pejabat pemerintahan yang punya kekuasaan luas. Ia hanyalah seorang laki-laki biasa yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang guru di sebuah sekolah swasta. Dengan bermodalkan sebuah vespa tua, ia berusaha untuk menafkahi keluarganya. Seorang pegawai negeri golongan rendah yang gajinya hanya cukup untuk sekedar mengepulkan asap dapur. Istrinya juga hanyalah bekerja sebagai pegawai honorer di sekolah swasta yang berbeda. Gajiku tidaklah seberapa, untuk makan saja susah, gimana nanti bisa membahagiakan anakku nanti. Pemikiran tersebut menggelayut bak awan hitam yang menghiasi pagi tersebut. Dilihatnya dompet kulit kepunyaannya yang sudah usang, hanya ada beberapa lembar uang sepuluh ribu dan uang receh terselip diantaranya. Tidak sengaja perhatiannya teralihkan pada sebuah foto Polaroid yang ada pada dompetnya. Dilihatnya foto tersebut dengan seksama, seberkas senyum kecil kini menghiasi bibirnya. Foto tersebut adalah fotonya dengan Suratni, istrinya, ketika masih berpacaran dulu.  Sungguh bahagia perasaanya ketika mengingat kembali kenangan tersebut. Saat mereka saling berjanji setia dalam susah maupun senang dengan ikatan perkawinan sebagai saksinya. Tiba-tiba ia pun menjadi malu, malu pada dirinya sendiri.

Bodoh, kenapa aku malah berpikiran tak akan sanggup membahagiakan anakku nanti? Kami bisa bahagia meskipun dengan materi yang pas-pasan. Kalau aku tak bisa membahagiakan lewat materi, lewat kasih sayanglah yang akan kuberikan. Ya benar, hanya kasih sayang yang dapat membahagiakannya. Wah betapa bodohnya aku tadi. Kini setumpuk harapan mulai bangkit dalam dadanya, ia bertekad untuk berusaha keras membahagiakan anaknya nanti. Ia pun beranjak berjalan mendekati pintu ruang persalinan. Mengintip sedikit lewat celah-celah pintu yang terbuka. Dilihatnya istrinya tengah kesakitan dibantu beberapa perawat untuk melahirkan.

Kasihan istriku, demikian dipikirannya. Anakku nanti kelak harus bisa menjadi orang yang sukses, biar ga kayak aku ini hanya tamatan sarjana muda, jadi pegawai hanya bisa golongan rendah. Aku harus bisa menyekolahkan anakku setinggi mungkin, harus pokoknya. Kalau anakku ini perempuan, aku ingin ia mewarisi sifat istriku, sabar, setia dan juga penuh kasih sayang. Kalau bisa juga cantikknya harus kayak ibunya. Ia pun tertawa di dalam hatinya membayangkan anaknya nanti. Tapi kalau lahirnya laki-laki, ia harus mampu bekerja keras dan punya semangat juang yang tinggi. Ku ingin ia punya kemampuan yang lebih untuk mengangkat keluarga ini menjadi lebih baik. Hm, masalah wajah harus mirip cover boy seperti aku ini tapi kalo bisa juga biar ga ngewarisin kulit hitamku. Ia pun tertawa sekali lagi membayangkan bagaimana anaknya tersebut lahir nanti.

Resah gelisah makin lama makin menguasai Pak Yasa, ia tidak tahan melihat istrinya yang tengah berjuang sendiri menahan rasa sakit. Ia bolak-balik duduk dan berdiri lagi sambil melihat jam dinding yang tergantung di dekat pintu ruang persalinan. Lama rasanya sudah ia menunggu, sampai akhirnya seorang perawat keluar dari ruang persalinan dan mendatanginya.

“selamat pak, anaknya laki-laki dan sehat”, kata perawat tersebut.

“bagaimana dengan keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja?, tanya Pak Yasa terburu-buru.

“tenang pak….tenang… istri anda baik-baik saja, hanya sedikit kecapekan saja, mari silahkan pak masuk untuk melihat kondisi anak dan istri bapak”

“wah… terima kasih ya suster, terima kasih banyak”, kata Pak Yasa berseri-seri.

“iya sama-sama pak, memang sudah kewajiban kami membantu anda”, balas sang perawat.

Pak Yasa pun berjalan menuju ranjang tempat istrinya terbaring bersama bayinya. Istrinya hanya bisa tersenyum sedikit melihat kedatangannya.

“istirahatlah dulu, kamu kecapekan seperti itu, terima kasih ya karena telah memberikan seorang anak laki-laki yang tampan sepertiku ini, hehehehe . . .”

Istrinya hanya bisa membalas lewat senyuman dan genggaman tangan. Perlahan Pak Yasa menggendong putranya tersebut. Anak tersebut memiliki kulit putih dengan bobot yang cukup berat. Pipinya mirip seperti ibunya dengan alis mata yang tebal serta bibirnya yang tipis. Pada anak ini aku berharap, pada anak ini pula akan kupertaruhkan seluruh hidupku, dan pada anak inilah impianku kusematkan.

Ia pun lalu mengecup kening istrinya dan berkata, “Anak ini akan kunamakan Satria Suputra agar ia mempunyai jiwa yang pemberani namum tetap menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya”.

Istrinya hanya mengangguk dan disambut pelukan oleh Pak Yasa sambil menggendong putranya. Begitulah, tepat pukul 9 pagi, Satria lahir kedunia ini dengan menanggung harapan dan impian yang disematkan ayahnya untuknya. Harapan yang sudah ada bahkan sebelum ia bisa membuka matanya. Ia hanyalah anak biasa, bukan anak dengan kemampuan super atau sihir yang bisa menjadikannya seorang ksatria seperti namanya. Akan tetapi, dengan kasih sayang, harapan dan impian yang dibebankan di pundaknya, Satria kecil pun mulai membuka mata untuk pertama kalinya lalu menatap sinar-sinar hangat sang mentari.

Dari sinilah cerita ini dimulai, Satria bukanlah anak laki-laki yang bertahan hidup, tapi anak laki-laki yang harus bertahan hidup untuk mewujudkan harapan dan impiannya.

Bersambung . . . .

Advertisements

Permalink Leave a Comment

FOOTBALL MANAGER 2010 INFO

May 24, 2010 at 4:06 pm (Football) ()

Football manager 2010 adalah salah satu game manajerial yang sangat digemari di seluruh dunia. Dalam game ini kita bertindak sebagai manager yang mengatur segala taktik, transfer dan konferensi pers. Berikut adalah sedikit informasi terkait football manager 2010 yang mungkin bermanfaat bagi anda.

STAFF

Staff dalam FM sangat berguna untuk meningkatkan kualitas dari pemain-pemain klub kita. Staff tersebut terdiri dari assistant manager, first team coach, coach, fitness coach, goalkeeping coach, psycho  serta youth coach. Berikut adalah beberapa nama staff yang dapat membantu meningkatkan performa pemain

–        Valter di salvo

–        Ivan carminati

–        Franco baldini

–        Moniz

–        Luciano spinosi

–        Ventrone

–        Julio tous

–        Pako ayestaran

–        Jim cassel

–        Giusppe baresi

–        Thiodore whitmore

–        Steve gatting

–        Gianni nanni

PLAYER

Berikut adalah nama-nama pemain muda berbakat serta pemain dengan harga terjangkau yang  dapat memberikan kontribusi signifikan dan juga sebagai tambahan home-grown player pada klub yang kita latih.

–        Iker muniain

–        Borja baston

–        Daniel Aquino

–        Lorenzo criestig

–        Marco fossati

–        Albertazzi

–        Marc muniesa

–        Alberto botia

–        Chris smalling

–        Wallace

–        Nemanja matic

–        Vincent enyeama

–        David de gea

–        Daniel sturridge

–        Gael kakuta

–        Henry saivet

–        Mamadou sakho

–        Willian

–        Gianmarco zigoni

–        Bojan

–        Javi Martinez

–        Stephen appiah

–        Jack wilshere

–        Mark randall

–        Frederico macheda

–        Fabio

–        Misimovic

–        Thomar muller

–        Ivan obolo

–        David alaba

–        Tim krul

–        Jack rodwell

–        Jose baxter

–        Alipio

–        Jesus datolo

–        Javier pastore

–        Jason steele

Demikian sedikit informasi yang bisa saya bagikan, nanti akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.. semoga bermanfaat buat para FM mania

Permalink Leave a Comment

Hari Raya Galungan dan Kuningan Sebagai Intospeksi Diri

May 21, 2010 at 5:44 pm (Religy)

Galungan, mungkin adalah sebuah kata yang sering terdengar terutama bagi umat Hindu. Sebagai sebuah hari raya besar, kedatangannya sangat dinanti oleh sebagian besar umat Hindu khususnya di Bali. Galungan selalu identik dengan dengan penjor, makanan olahan khas bali, banten dsb. Bahkan bagi sebagian orang, galungan tersebut malah diidentikkan dengan hari libur. Sungguh suatu pergeseran tersendiri dari makna sebenarnya hari raya galungan. Apakah sebenarnya hari raya galungan tersebut? Dan bagaimana makna pelaksanaan hari raya ini terhadap keharmonisan alam semesta? Untuk itu marilah kita bersama-sama mengenal tentang makna galungan itu sendiri.

Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Peperangan yang disebutkan tadi bukanlah perang secara fisik menggunakan senjata. Tetapi perang terhadap segala keburukan di dalam diri kita sendiri. Menurut pepatah pun disebutkan bahwa, musuh yang paling sulit untuk dilawan adalah diri kita sendiri. Pada hari raya galungan ini diwujudkan dengan kemenangan dharma atas adharma. Jadi hendaknya kita sebagai manusia harus mampu untuk melawan dan mengalahkan segala sifat buruk yang terdapat dalam diri kita sendiri, untuk nantinya dapat menjadi seorang manusia yang lebih baik.

Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

1. Sang Bhuta Galungan.

Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).

2. Sang Bhuta Dungulan.

Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.

3. Sang Bhuta Amangkurat

Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu. Begitulah makna sebenarnya dari hari penampahan yang dilaksanakan sehari sebelum hari raya galungan itu sendiri.

Pada hari Saniscara Keliwon Wuku Kuningan (hari raya atau Tumpek Kuningan), Ida Sanghyang Widhi para Dewa dan Pitara-pitara turun lagi ke dunia untuk melimpahkan karuniaNya berupa kebutuhan pokok tersebut. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Segala rangkain hari raya ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Tulisan ini bukanlah dibuat untuk tujuan menggurui, tetapi berdasarkan keingintahuan sebagai umat akan makna pentingnya hari raya galungan dan kuningan. Semoga apa yang disampaikan bisa berguna bagi pembaca.

Permalink Leave a Comment

MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT TUBERCULOSIS

May 21, 2010 at 4:41 pm (Kesehatan)

Oleh:

Nama                        : I Gede Dwija Bawa Temaja

Nim                            : 0808505031

Jurusan                     : Farmasi

PENDAHULUAN

Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme terdapat dimana-mana. Interaksinya dengan sesame mikroorganisme ataupun organisme lain dapat berlangsung dengan cara yang aman dan menguntungkan maupun merugikan (Pratiwi, 2008).

Mikroorganisme di dunia ini ada yang menguntungkan dan ada juga yang merugikan. Mikroorganisme yang menguntungkan dapat kita manfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi, banyak juga mikroorganisme yang tidak menguntungkan kita yaitu dengan menyebabkan terjadinya penyakit pada tubuh manusia. Salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan atau menginfeksi manusia adalam Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat mengakibatkn penyakit tuberculosis pada manusia. Tuberculosis itu sendiri merupakan salah satu penyakit yang mematikan dan berbahaya di dunia.

Tuberculosis merupakan penyakit berbahaya ke-3 yang menyebabkan kematian di dunia setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan, dan merupakan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Saat ini tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menginfeksi sepertiga populasi dunia, setiap detik ada satu orang yang terinfeksi tuberculosis, tetapi hanya bakteri yang aktif yang menyebabkan orang menjadi sakit. Setiap tahunnya sekitar 4 juta penderita tuberkulosis paru menular di dunia, ditambah lagi penderita yang tidak menular. Hal ini menggambarkan setiap tahun di dunia akan ada sekitar 8 juta penderita tuberkulosis paru, dan ada sekitar 3 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini.

Sampai hari ini, penyakit TBC masih menempatkan Indonesia dalam tiga besar negara dengan jumlah penderita terbanyak. Pada umumnya kegagalan pengobatan TBC terjadi disebabkan terapi yang terputus karena pasien merasa sudah sembuh. Kendala lain yang  sering timbul adalah lamanya waktu pengobatan. Obat untuk TBC harus dimakan sedikitnya enam bulan. Sementara biasanya setelah makan obat selama dua bulan, pasien malas meneruskan pengobatan karena merasa sembuh dan tidak merasakan gejala lagi. Padahal kalau pengobatan berhenti di tengah jalan, maka bukan saja penyakitnya tidak sembuh dengan tuntas, tetapi juga menyebabkan bakteri TBC menjadi kebal terhadap obat yang digunakan. Ketiadaan biaya malah membuat seseorang tidak berobat, karena tidak mengetahui program pemerintah yang menggratiskan obat TBC di seluruh Puskesmas di Indonesia. Penyakit ini sering dianggap enteng oleh penderita karena masih bisa bekerja seperti biasa, namun tanpa disadari keparahan penyakit yang semakin meningkat sebanding dengan perjalanan waktu dan menurunnya daya tahan tubuh.

Penanganan TBC masih terus menjadi tantangan besar untuk para tenaga kesehatan. Untuk memutuskan rantai penularan perlu pula mendapati perhatian lintas sektoral karena berkaitan dengan faktor sosial budaya dan tempat hunian. Namun pada dasarnya penyakit TBC bisa disembuhkan secara tuntas apabila pasien mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk minum obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Selain itu diperlukan juga kepedulian dan pengawasan dari tenaga kesehatan untuk mengawal perkembangan terapi pasien. Penyebab TBC memang bukan bakteri biasa, karena itu diperlukan konsistensi dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi untuk mencapai hasil terapi yang optimal.

TAKSONOMI, MORFOLOGI, FISIOLOGI SERTA EKOLOGI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS.

Mycobacterium tuberculosis pertama kali dideskripsikan pada tanggal 24 Maret 1882 oleh Robert Koch. Maka untuk mengenang jasa beliau, bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri penyebab penyakit tuberkulosa (TBC) (Wikipedia, 2010). Bahkan penyakit TBC pada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).

Berikut adalah taksonomi dari Mycobacterium tuberculosis.

Kingdom           : Bacteria

Filum                 : Actinobacteria

Ordo                  : Actinomycetales

Upaordo            : Corynebacterineae

Famili                : Mycobacteriaceae

Genus                : Mycobacterium

Spesies              : Mycobacterium tuberculosis

Sumber: Wikipedia

Adapun bentuk bakteri Mycobacterium tuberculosis ini adalah basil tuberkel yang merupakan batang ramping dan kurus, dapat berbentuk lurus ataupun bengkok yang panjangnya sekitar 2-4 mm dan lebar 0,2 – 0,5 mm yang bergabung membentuk rantai. Besar bakteri ini tergantung pada kondisi lingkungan (Wikipedia, 2010).

Mycobacterium tuberculosis tidak dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram positif atau bakteri gram negatif, karena apabila diwarnai sekali dengan zat warna basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alkohol, meskipun dibubuhi iodium. Oleh sebab itu bakteri ini termasuk dalam bakteri tahan asam. Mycobacterium tuberculosis cenderung lebih resisten terhadap faktor kimia dari pada bakteri yang lain karena sifat hidrofobik permukaan selnya dan pertumbuhan bergerombol. Mycobacterium tuberculosis tidak menghasilkan kapsul atau spora serta dinding selnya terdiri dari peptidoglikan dan DAP, dengan kandungan lipid kira-kira setinggi 60% (Simbahgaul, 2008). Pada dinding sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan patogen, menjadikan Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag (Indah, 2010).

Bakteri Mycobacterium memiliki sifat tidak tahan panas serta akan mati pada 6°C selama 15-20 menit. Biakan bakteri ini dapat mati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam. Dalam dahak, bakteri mycobacterium dapat bertahan selama 20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini apabila berada dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20°C selama 2 tahun. Mycobacterim tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit (Hiswani M.Kes, 2010).

Mycobacterium tuberculosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam keadaan dingin atau dapat hidup bertahun-tahun dalam lemari es. Hal ini dapat terjadi apabila kuman berada dalam sifat dormant (tidur). Pada sifat dormant ini apabila suatu saat terdapat keadaan dimana  memungkinkan untuk berkembang, kuman tuberculosis ini dapat bangkit kembali (Hiswani M.Kes, 2010).

Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri aerob, oleh karena itu pada kasus TBC biasanya mereka ditemukan pada daerah yang banyak udaranya. Mikobakteria mendapat energi dari oksidasi berbagai senyawa karbon sederhana. Aktivitas biokimianya tidak khas, dan laju pertumbuhannya lebih lambat dari kebanyakan bakteri lain karena sifatnya yang cukup kompleks dan dinding selnya yang impermeable, sehingga penggandaannya hanya berlangsung setiap kurang lebih 18 jam. Karena pertumbuhannya yang lamban, seringkali sulit untuk mendiagnostik tuberculosis dengan cepat. Bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat, berkembangbiak dengan baik pada suhu 22-23oC, menghasilkan lebih banyak pigmen, dan kurang tahan asam dari pada bentuk yang pathogen. Mikobakteria cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab (Simbahgaul, 2008).

Bakteri ini biasanya berpindah dari tubuh manusia ke manusia lainnya melalui saluran pernafasan, keluar melalui udara yang dihembuskan pada proses respirasi dan terhisap masuk saat seseorang menarik nafas. Habitat asli bakteri Mycobacterium tuberculosis sendiri adalah paru-paru manusia. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di dalam paru-paru (Anonim a, 2010).

Bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tuberkolosis atau disingkat TBC. Sumber penularan adalah penderita Tuberculosis (TB) yang dahaknya mengandung kuman TB hidup (BTA (+)). Infeksi kuman ini paling sering disebarkan melalui udara (air borne, droplets infection). Penyebaran melalui udara berupa partikel-partikel percikan dahak yang mengandung kuman berasal dari penderita saat batuk, bersin, tertawa, bernyanyi atau bicara. Partikel mengandung kuman ini akan terhisap oleh orang sehat dan menimbulkan infeksi di saluran napas. Bakteri aktif mikobakteria mencemari udara yang ditinggali atau ditempati banyak manusia, karena sumber dari bakteri ini adalah manusia. Bakteri ini dapat hidup selama beberapa jam pada udara terbuka, dan selama itulah dia akan berterbangan di udara hingga akhirnya menemukan manusia sebagai tempat hidup. (U-knee, 2008).

Biasanya pencemaran oleh bakteri ini terjadi pada rumah yang penuh dengan orang namun memiliki ventilasi yang buruk. Juga ditempat-tempat ramai yaitu sarana perhubungan seperti bis sekolah, kapal laut, juga pada asrama, penjara, bahkan dari dokter yang kurang memperhatikan sanitasi tubuhnya. Habitat asli dari bakteri ini adalah manusia, dan hanya menjadikan lingkungan sebagai perantara (Tin-U, 2005).

PENYAKIT TUBERCULOSIS (TBC)

Penyakit TBC adalah merupakan suatu penyakit yang tergolong dalam infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TBC dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua, muda, kaya dan miskin serta dimana saja. Apabila seseorang sudah terpapar dengan bakteri penyebab tuberculosis akan berakibat buruk seperti menurunkan daya kerja atau produktivitas kerja, menularkan kepada orang lain terutama pada keluarga yang bertempat tinggal serumah, dan dapat menyebabkan kematian. Pada penyakit tuberkulosis jaringan pang paling sering diserang adalah paru-paru (95,9 %) (Hiswani M.Kes, 2010).

Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian, yaitu gejala umum dan gejala khusus. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosa TBC adalah disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang tidak khas, terutama pada kasus-kasus baru (Anonim b, 2010).

a)      Gejala umum (Sistemik)

  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Sumber: Anonim b, 2010

b)      Gejala khusus (Khas)

  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Sumber: Anonim b, 2010

Pada penderita usia anak-anak apabila tidak menimbulkan gejala, Maka TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Sekitar 30-50% anak-anak yang terjadi kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah (Anonim b, 2010)

Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfibris), badan kurus atau berat badan menurun. Tempat kelainan lesi TB yang perlu dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicurigai infiltrat yang agak luas, maka akan didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi nafas bronkial. Akan didapatkan juga suara nafas tambahan berupa ronkhi basah, kasar, dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara nafasnya menjadi vesikular melemah.

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

–        Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.

–        Pemeriksaan fisik.

–        Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).

–        Pemeriksaan patologi anatomi (PA).

–        Rontgen dada (thorax photo).

–        Uji tuberkulin.

Sumber: Anonim b, 2010

Penyakit tuberculosis memiliki beberapa variasi jenisnya. Adapun jenis-jenis dari penyakit tuberculosis tersebut adalah:

  • Tuberculosis paru terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis
  • Tuberculosis paru tidak terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis
  • Tuberculosis pada sistem saraf
  • Tuberculosis pada organ-organ lainnya
  • Tuberculosis millier

Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu Tuberkulosis Paru BTA positif dan Tuberkulosis Paru BTA negatif (Avicenna, 2009)

Tuberculosis ekstra paru adalah tuberculosis yang menyerang organ tubuh selain jaringan paru, misalnya pleura (selaput paru), selaput otak, selaput jantung, kelejar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain. Berdasarkan tingkat keparahannya, TB Ekstra Paru dibagi menjadi 2 yaitu : tuberculosis ekstra paru ringan seperti misalnya adalah TB kelenjar limfe, pleuritis eksudatif unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal serta  tuberculosis ekstra paru berat, misalnya adalah meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudatif dupleks, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin (Avicenna, 2009).

Dalam kasus TBC terdapat beberapa tipe penderita yang ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Adapun beberapa tipe penderita tersebut yaitu: kasus baru adalah dimana penderita tersebut belum pernah diobati dengan OAT (Obat Anti Tuberculosis) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian) (Avicenna, 2009).

Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapatkan terapi TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif (Avicenna, 2009).

Pindahan (transfer in) adalah penderita TB yang sedang mendapatkan pengobatan disuatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita tersebut harus membawa surat rujukan/pindahan (FORM TB 09) (Avicenna, 2009).

Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default/drop-out) adalah penderita TB yang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif setelah putus berobat 2 bulan atau lebih. (Avicenna, 2009).

Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 atau lebih atau  penderita BTA negative, rontgen positif yang menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan. (Avicenna, 2009).

Semua penderita lain yang tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas merupakan tipe yang lain. Termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik (adalah penderita yang masih BTA positif setelah menyelesaikan pengobatan ulang dengan kategori 2) (Avicenna, 2009).

INVASI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS SERTA RIWAYAT TERJADINYA TUBERCULOSIS

Penyebaran penyakit TBC biasanya dimulai melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk. Pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri tuberculosis ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena infeksi bakteri ini adalah paru-paru (Anonim d, 2010)

Saat Mycobacterium tuberculosis berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen (Anonim d, 2010)

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC (Anonim d, 2010).

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC (Anonim d, 2010).

Adapun riwayat terjadinya tuberculosis dapat dibagi menjadi 2 tahap yaitu tahap infeksi primer dan pasca primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru-paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 – 6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif (Anonim c, 2010).

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan (Anonim c, 2010).

Tahap kedua yaitu Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Anonim c, 2010).

Penderita penyakit tuberculosis dapat mengalami komplikasi dimana komplikasi ini sering terjadi pada penderita stadium lanjut. Beberapa komplikasinya adalah sebagai berikut:

  • Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas.
  • Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
  • Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
  • Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
  • Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
  • Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Sumber: Anonim c, 2010

Komplikasi akibat penyakit TBC dapat menyerang beberapa organ vital tubuh, di antaranya adalah tulang, usus, otak serta ginjal. TBC tulang ini bisa disebabkan oleh bakteri TBC yang mengendap di paru-paru, lalu terjadi komplikasi dan masuk ke tulang. Atau bisa juga bakteri TBC langsung masuk ke tulang lewat aliran darah dari paru-paru. Waktu yang dibutuhkan bakteri untuk masuk dan merusak tulang bervariasi. Ada yang singkat, tapi ada pula yang lama hingga bertahun-tahun. Bakteri TBC biasanya akan berkembang biak dengan pesat saat kondisi tubuh sedang lemah, misalnya selagi anak terkena penyakit berat. Saat itu kekebalan tubuhnya menurun, sehingga bakteri pun leluasa menjalankan aksinya (Anonim e, 2010).

Bagian tulang yang biasa diserang bakteri TBC adalah sendi panggul, panggul dan tulang belakang. Gangguan tulang belakang bisa terlihat dari bentuk tulang belakang penderita. Biasanya tidak bisa tegak, bisa miring ke kiri, ke kanan, atau ke depan. Sendi panggul yang rusak pun membuat penderita tidak bisa berjalan dengan normal. Sedangkan pada ibu hamil, kelainan panggul membuatnya tidak bisa melahirkan secara normal. Jika kelainannya masih ringan, upaya pemberian obat-obatan dan operasi bisa dilakukan. Lain halnya jika berat, tindakan operasi tidak bisa menolong karena sendi atau tulang sudah hancur. Penderita bisa cacat seumur hidup (Anonim e, 2010).

Selain karena komplikasi, TBC usus ini bisa timbul karena penderita mengonsumsi makanan/minuman yang tercemar bakteri TBC. Bakteri ini bisa menyebabkan gangguan seperti penyumbatan, penyempitan, bahkan membusuknya usus. Ciri penderita TBC usus antara lain anak sering muntah akibat penyempitan usus hingga menyumbat saluran cerna. Mendiagnosis TBC usus tidaklah mudah karena gejalanya hampir sama dengan penyakit lain. Ciri lainnya tergantung bagian mana dan seberapa luas bakteri itu merusak usus. Demikian juga dengan pengobatannya. Jika ada bagian usus yang membusuk, dokter akan membuang bagian usus itu lalu menyambungnya dengan bagian usus lain (Anonim e, 2010).

Bakteri TBC juga bisa menyerang otak. Gejalanya hampir sama dengan orang yang terkena radang selaput otak, seperti panas tinggi, gangguan kesadaran, kejang-kejang, juga penyempitan sel-sel saraf di otak. Kalau sampai menyerang selaput otak, penderita harus menjalani perawatan yang lama. Sayangnya, gara-gara sel-sel sarafnya rusak, penderita tidak bisa kembali ke kondisi normal. (Anonim e, 2010).

Bakteri TBC pun bisa merusak fungsi ginjal. Akibatnya, proses pembuangan racun tubuh akan terganggu. Selanjutnya bukan tidak mungkin bakal mengalami gagal ginjal. Gejala yang biasa terjadi antara lain mual-muntah, nafsu makan menurun, sakit kepala, lemah, dan sejenisnya. Gagal ginjal akut bisa sembuh sempurna dengan perawatan dan pengobatan yang tepat. Sedangkan gagal ginjal kronik sudah tidak dapat disembuhkan. Beberapa di antaranya harus menjalani cangkok ginjal (Anonim e, 2010).

Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit. Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik (Anonim c, 2010).

PENGOBATAN PENYAKIT TUBERCULOSIS

Pengobatan TBC harus dilakukan secara tepat sehingga secara tidak langsung akan mencegah penyebaran penyakit ini. Berikut adalah beberapa obat yang biasanya digunakan dalam pengobatan penyakit TBC:

1)      Isoniazid (INH)

Obat yang bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) ini merupakan prodrug yang perlu diaktifkan dengan enzim katalase untuk menimbulkan efek. Bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel mikrobakteri (Anonim f, 2010).

2)      Rifampisin / Rifampin

Bersifat bakterisidal (membunuh bakteri) dan bekerja dengan mencegah transkripsi RNA dalam proses sintesis protein dinding sel bakteri (Anonim f, 2010).

3)      Pirazinamid

Bersifat bakterisidal dan bekerja dengan menghambat pembentukan asam lemak yang diperlukan dalam pertumbuhan bakteri (Anonim f, 2010).

4)      Streptomisin

Termasuk dalam golongan aminoglikosida dan dapat membunuh sel mikroba dengan cara menghambat sintesis protein (Anonim f, 2010).

5)      Ethambutol

Bersifat bakteriostatik. Bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri dengan meningkatkan permeabilitas dinding (Anonim f, 2010).

6) Fluoroquinolone

Fluoroquinolone adalah obat yang menghambat replikasi bakteri M. tuberculosis. Replikasi dihambat melalui interaksi dengan enzim gyrase, salah enzim yang mutlak diperlukan dalam proses replikasi bakteri M. Tuberculosis. Enzim ini tepatnya bekerja pada proses perubahan struktur DNA dari bakteri, yaitu perubahan dari struktur double helix menjadi super coil (Gambar 5). Dengan struktur super coil ini DNA lebih mudah dan praktis disimpan di dalam sel. Pada proses tersebut enzim gyrase berikatan dengan DNA, dan memotong salah satu rantai DNA dan kemudian menyambung kembali (Gambar 5). Dalam proses ini terbentuk produk sementara (intermediate product) berupa ikatan antara enzim gyrase dan DNA (kompleks gyrase-DNA) (Anonim g, 2008)

Fluoroquinolone mamiliki kemampuan untuk berikatan dengan kompleks gyrase-DNA ini, dan membuat gyrase tetap bisa memotong DNA, tetapi tidak bisa menyambungnya kembali. Akibatnya, DNA bakteri tidak akan berfungsi sehingga akhirnya bakteri akan mati. Selain itu, ikatan fluoroquinolone dengan kompleks gyrase-DNA merupakan ikatan reversible, artinya bisa lepas kembali sehingga bisa di daur ulang. Akibatnya, dengan jumlah yang sedikit fluoroquinolone bisa bekerja secara efektif (Anonim g, 2008)

Dalam terapi TBC, biasanya dipilih pemberian dalam bentuk kombinasi dari 3-4 macam obat tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri terhadap obat. Dosis yang diberikan berbeda untuk tiap penderita, bergantung tingkat keparahan infeksi. Karena bakteri tuberkulosa sangat lambat pertumbuhannya, maka penanganan TBC cukup lama, antara 6 hingga 12 bulan yaitu untuk membunuh seluruh bakteri secara tuntas (Anonim f, 2010).

Pengobatan harus dilakukan secara terus-menerus tanpa terputus, walaupun pasien telah merasa lebih baik / sehat. Pengobatan yang terhenti ditengah jalan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten. Jika hal ini terjadi, maka TBC akan lebih sukar untuk disembuhkan dan perlu waktu yang lebih lama untuk ditangani. Untuk membantu memastikan penderita TBC meminum obat secara teratur dan benar, keterlibatan anggota keluarga atau petugas kesehatan diperlukan yaitu mengawasi dan jika perlu menyiapkan obat yang hendak dikonsumsi. Oleh karena itu, perlunya dukungan terutama dari keluarga penderita untuk menuntaskan pengobatan agar benar-benar tercapai kesembuhan (Anonim f, 2010).

Obat diminum pada waktu yang sama setiap harinya untuk memudahkan penderita dalam mengkonsumsi obat. Lebih baik obat diminum saat perut kosong sekitar setengah jam sebelum makan atau menjelang tidur (Anonim f, 2010).

Selain dengan menggunakan obat-obatan tersebut, pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri mycobacterium ini dapat dilakukan dengan menggunakan jahe dan mengkudu. Jahe dan mengkudu dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan bakteri berbentuk batang tersebut karena kedua bahan itu kaya akan senyawa antibakteri. Misalnya jahe mempunyai gingerol yang bersifat antibakteri. Demikian juga mengkudu yang mengandung senyawa aktif antrakuinon, acubin, asperuloside, dan alizarin. Keempat senyawa itu juga berkhasiat untuk membunuh bakteri tuberculosis (Anonim h, 2010)

Kedua bahan itu mempunyai sifat antibakteri lebih kuat ketika disatukan. Sebaliknya bila dipisah, kekuatannya berkurang. Jahe dan mengkudu juga bersifat imunostimulan alias meningkatkan daya tahan tubuh. Duet mengkudu dan jahe menyusul meniran yang lebih dulu diuji klinis sebagai penyembuh tuberkulosis. Phyllanthus niruri itu terbukti sebagai antituberkulosis. Pemberian 50 mg kapsul meniran selama 3 kali sehari menyembuhkan TB pada pekan ke-6 atau lebih cepat 8 minggu dibandingkan pasien yang tidak mengkonsumsi meniran.
Meniran juga bersifat sebagai imunomodulator alias penguat sistem kekebalan tubuh. Ketika kekebalan tubuh meningkat, bibit-bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh dapat dilemahkan. Jika sel-sel imun seseorang diganggu, maka orang tersebut akan rentan sakit (Anonim h, 2010).

Perpaduan ekstrak jahe dan mengkudu itu mampu menyempurnakan obat standar resep dokter seperti rifampisin serta pirazinamid yang selama ini digunakan untuk mengatasi TB. Untuk yang tidak cocok mengkonsumsi obat-obatan dokter tersebut, menyebabkan gangguan hati. Namun, apabila penggunaannya disertai dengan konsumsi jahe dan mengkudu, hal tersebut tidak akan terjadi. Ekstrak jahe dan mengkudu juga mencegah resistensi (Anonim h, 2010)

RESISTENSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS

Bakteri Mycobacterium tuberculosis secara alami resisten terhadap berbagai antibiotik yang telah ada sebelumnya. Hal ini menyebabkan sulitnya pengobatan penyakit TB secara tuntas. Sifat resisten ini dipengaruhi oleh adanya enzim-enzim yang mampu memodifikasi obat seperti b-lactamase dan aminoglycosida acetyl transferase. Jika diterapi dengan benar, tuberkulosis dapat disembuhkan yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis,  yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus (Palit, 2010)

Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap fluoroquinolone melalui struktur unik protein MfpA. Berdasarkan analisa model dengan menggunakan komputer (computer modeling) ditemukan bahwa protein MfpA bisa masuk ke dalam bagian aktif (active site) dari enzim gyrase, seperti halnya DNA. Ini disebabkan karena protein MfpA memiliki struktur yang sama dengan DNA. Akan tetapi berbeda dengan interaksi gyrase dengan DNA, interaksi gyrase dengan MfpA mengakibatkan gyrase tidak bisa berinteraksi dengan fluoroquinolone. Dengan kata lain, kompleks MfpA-gyrase tidak bisa berinterkasi dengan fluoroquinolone, sehingga fluoroquinolone tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya (Anonim g, 2008).

Interaksi gyrase dan DNA penting dalam proses replikasi bakteri M. tuberculosis. Interaksi protein MfpA dengan gyrase, secara otomatis juga menghambat interaksi gyrase dengan DNA. Dengan kata lain, protein MfpA merupakan inhibitor dari enzim gyrase, yakni menghambat aktivitas enzim gyrase itu senditi. Hambatan fungsi enzim gyrase ini mengakibatkan proses replikasi M. tuberculosis terganggu. Pada kenyataannya memang demikian. Artinya, perkembangbiakan bakteri M. tuberculosis menurun, akan tetapi hal ini lebih baik bagi bakteri dari pada mati karena obat fluoroquinolone. Dan biasanya bakteri yang resisten terhadap suatu obat bukan secara tiba-tiba, melainkan mulai dari jumlah yang sedikit dan kemudian perlahan-lahan bertambah sesuai dengan perjalanan waktu (Anonim g, 2008).

Mekanisme fungsi protein MfpA dalam proses resistensi M. tuberculosis sangat unik. Pada umumnya resistensi disebabkan oleh penguraian obat anti-bakteri oleh enzim atau protein tertentu. Akan tetapi tidak demikian halnya dengan protein MfpA. Protein ini hanya memproteksi interaksi obat dengan targetnya. MfpA adalah protein yang pertama kali dibuktikan mempunyai fungsi demikian (Anonim g, 2008).

Pada umumnya kegagalan pengobatan TBC terjadi disebabkan terapi yang terputus karena pasien merasa sudah sembuh. Masalah yang sering timbul adalah lamanya waktu pengobatan. Obat untuk TBC harus dimakan sedikitnya enam bulan. Sementara biasanya setelah makan obat selama dua bulan, pasien malas meneruskan pengobatan karena merasa sembuh dan tidak merasakan gejala lagi. Padahal apabila pengobatan berhenti di tengah jalan, maka tidah hanya penyakitnya saja yang tidak sembuh dengan tuntas, tetapi juga menyebabkan bakteri TBC menjadi kebal terhadap obat yang digunakan. Ketiadaan biaya juga membuat seseorang tidak berobat, karena tidak mengetahui program pemerintah yang menggratiskan obat TBC di seluruh Puskesmas di Indonesia. Penyakit ini sering dianggap enteng oleh penderita karena masih bisa bekerja seperti biasa, namun tanpa disadari keparahan penyakit yang semakin meningkat sebanding dengan perjalanan waktu dan menurunnya daya tahan tubuh.

EPIDEMIOLOGI DAN PENYEBARAN PENYAKIT TUBERCULOSIS

TBC umumnya menyerang orang dewasa muda dan banyak terjadi di negara berkembang. Setengahnya terdapat di Asia. Pada tahun 2008, WHO memprediksi ada sekitar 9,4 juta orang yang menjadi penderita TBC aktif. Dari 15 negara dengan tingkat TBC paling tinggi, 13 diantaranya ada di Afrika. Sementara itu setengahnya ada di negara Asia, diantaranya Bangladesh, China, India, Indonesia, Pakistan dan Filipina (Anonim i, 2010)

Apabila penyakit tuberculosis ini tidak diobati, maka setelah lima tahun, 50 % dari penderita TB akan meninggal, 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25 % sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO 1996).

Menurut WHO (1999), di Indonesia setiap tahun terjadi 583 kasus baru dengan kematian

130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya. Sedangkan menurut hasil penelitian kusnindar 1990, Jumlah kematian yang disebabkan karena tuberkulosis diperkirakan 105,952 orang pertahun. Kejadian kasus tuberkulosa paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah. Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan dipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal (Hiswani M.Kes, 2010).

HIV juga memberikan pengaruh signifikan terhadap penyebaran penyakit tuberculosis ini. Hal ini terjadi karena infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula (Anonim j, 2010).

PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERCULOSIS

Pencegahan terhadap kemungkinan terjangkitnya penyakit ini merupakan langkah yang paling efektif dan efisien. Adapun yang dapat kita lakukan sebagai upaya pencegahan adalah sebagai berikut:

* Konsumsi makanan bergizi

Dengan asupan makanan bergizi, daya tahan tubuh akan meningkat. Produksi leukosit pun tidak akan mengalami gangguan, hingga siap melawan bakteri TBC yang kemungkinan terhirup. Selain itu, konsumsi makanan bergizi juga menghindarkan terjadinya komplikasi berat akibat TBC (Anonim e, 2010).

* Vaksinasi

Dengan vaksinasi BCG yang benar dan di usia yang tepat, sel-sel darah putih menjadi cukup matang dan memiliki kemampuan melawan bakteri TBC. Meski begitu, vaksinasi ini tidak menjamin penderita bebas sama sekali dari penyakit TBC, khususnya TBC paru. Hanya saja kuman TBC yang masuk ke paru-paru tidak akan berkembang dan menimbulkan komplikasi. Bakteri juga tidak bisa menembus aliran darah dan komplikasi pun bisa dihindarkan. Dengan kata lain, karena sudah divaksin BCG, anak hanya menderita TBC ringan (Anonim e, 2010).

* Lingkungan

Lingkungan yang kumuh dan padat akan membuat penularan TBC berlangsung cepat. Untuk itulah mengapa lingkungan yang sehat dan kebersihan makanan dan minuman sangat perlu untuk dijaga (Anonim e, 2010).

Permalink Leave a Comment

Laporan Sterilisasi

May 21, 2010 at 2:47 pm (Mikrobiologi)

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

STERILISASI

Oleh:

Nama                        : I Gede Dwija Bawa Temaja

Nim                            : 0808505031

Kelompok                 : II

Tanggal Praktikum : 22 Maret 2010

Asisten                      : Agus Brahmantra P.

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2010

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam dunia kesehatan, sterilisasi sangatlah penting dilakukan untuk memberikan efek terapeutik yang maksimal. Steril artinya bebas dari segala mikroba baik patogen maupun tidak (Entjang, 2003). Sterilisasi merupakan suatu proses membebaskan suatu peralatan atau bahan dari mikroorganisme yang tidak dikehendaki (Ramona dkk, 2007). Proses ini melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme (Pratiwi, 2008).

Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi. Pemilihan mekanisme sterilisasi yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan sifat bahan yang akan disterilkan. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan pemanasan, penggunaan sinar UV, sinar X, dan sinar-sinar yang memiliki panjang gelombang pendek (Ramona dkk, 2007).

Sterilisasi secara kimia dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti alkohol, desinfektan, formalin, dsb (Ramona dkk, 2007). Bahan kimia yang baik adalah yang memiliki kemampuan membunuh mikroba secara cepat dengan dosis yang rendah tanpa merusak bahan atau alat yang disterilkan. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Sterilisasi dengan swab dilakukan untuk mengetahui jumlah mikroba pada permukaan tubuh (Waluyo, 2004)

1.2 Tujuan

  1. Untuk mengetahui fungsi dari sterilisasi.
  2. Untuk mengetahui metode-metode yang digunakan untuk sterilisasi.
  3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan sterilisasi secara fisika dan secara kimia.
  4. Untuk mengetahui ada tidaknya mikroba pada tubuh dengan swab.

II. MATERI DAN METODE

Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan sinar UV. Langkah pertama adalah menuangkan medium NA tegak ke dalam 3 buah cawan petri dan dibiarkan membeku. Penuangan ini dilakukan dekat dengan api untuk meminimalisasi kontak dengan mikroba dari lingkungan. Setelah Nutrien Agar membeku biarkan kontak dengan udara, barulah cawan petri tersebut disinari dengan sinar UV selama 1 menit dan 3 menit pada cawan yang berbeda. Sisa cawan digunakan sebagai kontrol yaitu bahan atau alat yang tidak mendapatkan perlakuan apapun dan digunakan sebagai pembanding. Setelah di sinari dengan UV, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370 C dalam keadaan terbalik. Diamati pertumbuhan mikroba di sekitar media.

Sterilisasi secara kimia menggunakan bahan kimia yaitu detol, karbol, dan obat kumur, serta menggunakan alkohol dengan konsentrasi yang berbeda (40%, 70%, 96%). Langkah pertama adalah menuangkan medium NA tegak ke dalam 2 buah cawan petri dan dibiarkan membeku. Stelah membeku, cawan petri dibalik dan dibagi menjadi empat bagian ditandai dengan spidol dan diberi label untuk 3 bahan kimia serta kontrol dan 3 konsentrasi alkohol beserta kontrolnya. Sementara itu, tiga buah jarum pentul dimasukkan ke dalam masing-masing satu jenis bahan kimia dan alkohol. Jarum diambil dengan pinset dan diletakkan dalam cawan yang telah dibagi menjadi empat bagian. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 28-300 C barulah diamati pertumbuhan mikroba di sekitar media.

Untuk sterilisasi secara kimia dengan sabun, medium NA tegak dicairkan kemudian dituang ke dalam 3 buah cawan petri dan dibiarkan membeku pada suhu kamar. Pada cawan pertama, diapuskan jari tangan yang belum dicuci pada medium NA. Pada cawan kedua, medium diapuskan dengan jari tangan dari orang yang berbeda yang sebelumnya telah mencuci tangannya menggunakan sabun nuvo (sabun A) dan dibiarkan mengering tanpa di lap. Hal serupa diulang kembali untuk cawan petri ketiga, hanya sabunnya diganti menjadi sabun lifeboy (sabun B). Pola pengapusan tangan pada medium membentuk garis zigzag agar terlihat bakteri yang ada pada medium.

Untuk pemeriksaan dengan metode swab, mula-mula medium NA tegak dicairkan kemudian dituangkan ke dalam cawan petri yang telah disterilkan. Medium NA dibiarkan membeku pada suhu kamar. Setelah itu cotton bud dicelupkan ke dalam air steril selama 1 menit kemudian diapuskan pada permukaan kulit tangan dan apuskan kembali pada medium di dalam cawan petri membentuk pola garis zigzag. Hal serupa diulang kembali dengan cotton bud diapuskan masing-masing ke bagian pipi dan belakang telinga. Pada saat cotton bud diapuskan pada permukaan medium dalam cawan petri, cawan petri dibuka pelan-pelan dan didekatkan pada nyala api agar tidak terkontaminasi mikroba. Ketiga cawan kemudian diinkubasi pada suhu 28-300 C. Mikroba yang tumbuh dalam cawan petri diperhatikan setelah 24 jam.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan Sterilisasi

No. Sterilisasi Perlakuan Pertumbuhan Mikroba
I II III
1 UV Kontrol _ + + + + + +
1 Menit + + + + +
3 Menit + + +
2 Zat Kimia Kontrol + + + + + + + + +

Alkohol

40 % _ + + _
70 % _ + + _
96 % _ _ +
3 Bahan Kimia Kontrol + + + + + +
Karbol + + + + _
Detol + + + + _
Obat Kumur + _ +
4 Sabun Kontrol + + + + + + + + +
Sabun A (Nuvo) + + + + + +
Sabun B (Lifeboy) + + + + +
5 Mikroba Tubuh Pipi + + + + + +
Tangan + + + +
Telinga Belakang + + + + + + +

Keterangan:

–           = tidak terdapat bakteri

+          = sedikit bakteri

++        = jumlah bakteri sedang

+++     = jumlah bakteri banyak

3.2 Pembahasan

Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan menggunakan sinar UV, dimana sinar UV ini merupakan penetrasi udara yang efektif untuk mengurangi dan menginaktifkan mikroorganisme. Keefektifan sinar UV bisa hilang jika digunakan terlalu berlebihan dan tidak dikontrol. Oleh karena itu lama penyinaran harus sesuai dengan alat atau bahan yang akan disterilkan. Semakin lama disinari dengan UV maka jumlah bakteri akan semakin sedikit karena sinar UV menghambat proses replikasi dengan cara merusak DNA bakteri sehingga pertumbuhan bakteri terhambat (Melnick dan Adelberg’s, 2005). Jika radiasi melewati sel, akan menyebabkan terbebasnya hidrogen, radikal hidrogen (OH), beberapa peroksida, serta mendenaturasi protein dan asam nukleat sehingga mengakibatkan kerusakan interselluler pada sel bakteri (Ramona dkk, 2007). Pada praktikum kali ini telah didapatkan hasil yang sesuai dimana dari tiga kali data pengulangan, didapatkan dua data yang menunjukkan bahwa dengan disinari sinar UV dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Hal ini bisa dilihat pada kontrol yang tidak disinari UV terdapat paling banyak mikroba, dengan disinari UV selama 1 menit terdapat mikroba dalam jumlah yang sedang dan dengan disinari selama 3 menit paling sedikit tumbuh mikroba. Adanya perbedaan data pada satu pengulangan disebabkan karena walaupun sinar UV ganas terhadap mikroba tetapi daya tembusnya kurang sehingga hanya dapat mematikan mikroba pada permukaan (Entjang, 2003) dan dapat juga disebabkan oleh karena kesalahan saat membuat medium pada kontrol yang terlalu dekat dengan nyala api, sehingga tidak ada bakteri yang mengkontaminasi medium.

Sterilisasi secara kimia dilakukan dengan menggunakan alkohol berbagai konsentrasi yaitu 40 %, 70% dan 96%.  Pada praktikum kali ini didapatkan hasil bervariasi dalam jumlah bakteri pada tiap-tiap konsentrasi alkohol, akan tetapi bisa dilihat persamaan yakni alkohol bisa menghambat pertumbuhan bakteri. Dapat dilihat pada kontrol terdapat paling banyak mikroba sedangkan yang menggunakan alkohol semakin sedikit dan bahkan tidak ada sama sekali mikroba. Hal ini karena mekanisme aksi alkohol sebagai disinfektan dengan cara melarutkan lipid pada membran sel mikroorganisme dan juga mendenaturasi protein yang dimiliki oleh mikroorganisme tersebut (Pratiwi, 2008). Alkohol merupakan senyawa dengan struktur R-CH2OH bersifat racun terhadap sel pada konsentrasi yang relatif tinggi. Konsentrasi optimal alkohol adalah pada 70-80%, dan konsentrasi alkohol antara 60-90% terlihat lebih cepat membunuh mikroorganisme (Pratiwi, 2008). Hal ini disebabkan karena pada proses denaturasi protein diperlukan adaanya air (Pratiwi, 2008). Akan tetapi terdapat sebuah data pengulangan yang justru pada konsentrasi 96% tidak terdapat mikroba sedangkan pada konsentrasi di bawahnya (40% dan 70%) terdapat bakteri dalam jumlah sedikit. Hal ini kemungkinan disebabkan sudah terkontaminasinya medium atau bahan dengan bakteri lain. Meskipun mampu mensterilkan alat-alat dan bahan, alkohol tidak cocok digunakan pada kulit sebab alkohol hanya membunuh sel vegetatif mikroorganisme di atas permukaan kulit tetapi tidak membunuh endospora, sel resisten atau sel yang lebih dalam yang berada di pori-pori kulit. dengan ini alkoholnya dapat menghambat pertumbuhan mikroba tetapi tidak dapat mensterilkan kulit (Dwidjoseputro, 2003).

Sterilisasi secara kimia dengan menggunakan antibakterial yaitu detol, karbol, dan obat kumur. Dari dua data percobaan didapatkan hasil bahwa mikroba tumbuh lebih banyak pada kontrol sedangkan pada medium yang diberi antibakterial, mikroba sedikit tumbuh bahkan tidak ada yang tumbuh. Hal ini telah sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa penggunaan antibakterial mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Akan tetapi terdapat penyimpangan pada satu data pengulangan dimana mikroba justru tumbuh pada medium yang berisi detol dan karbol. Hal ini tidak sesuai sebab pada karbol mengandung senyawa aktif berupa pine oil 2,5 % dimana pine oil itu sendiri mengandung minyak atsiri turunan fenol yang bersifat germisida yang prinsip daya kerjanya dapat mendenaturasi protein (Entjang, 2003). Sedangkan pada detol mengandung chloroxylenol (C8H9C1) dan isopropanol yang aktif 98% efektif membunuh bakteri gram positif dan negatif dalam waktu 15 detik dengan mendisrupsi membran sel dan menghambat pembentukan adenosine triphosphate. Begitu juga dengan obat kumur mengandung povidone iodine 1% yang merupakan senyawa antiseptik yang mampu menginaktivasi atau mematikan mikroorganisme secara kimia (Pratiwi, 2008). Penyimpangan ini disebabkan karena pada saat pemindahan ke media terlalu dekat dengan api spiritus sehingga sedikit tidaknya bakteri yang ada telah mati akibatnya pada kontrol, jumlah bakterinya sedikit.

Sterilisasi dengan menggunakan sabun dilakukan dengan menggunakan dua sampel sabun yaitu Nuvo (Sabun A) dan Lifebuoy (Sabun B). Pada pengujian ini, data sabun dibandingkan dengan kontrol dimana pada kontrol terdapat jumlah mikroba yang banyak sedangkan dengan menggunakan sabun A dan B hanya terdapat mikroba dalam jumlah sedang. Hal ini terjadi karena pada sabun terdapat ikatan antara natrium atau kalium dengan asam lemak tinggi dan bersifat germisida sehingga dapat menyebabkan penurunan tegangan permukaan pada mikroba, akibatnya mikroba mudah terlepas dari kulit (Entjang, 2003). Terlebih lagi pada sabun nuvo mengandung bahan aktif TCC dan triclosan sedangkan pada sabun lifebuoy terkandung Pipper Betle Leaf Oil dimana semua senyawa aktif tersebut bersifat antiseptik yaitu zat-zat yang dapat membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup (Anonim, 1979).

Sterilisasi dengan menggunakan swab bertujuan untuk mengetahui jumlah mikroba yang terdapat pada permukaan tubuh khususnya pada daerah pipi, tangan dan belakang telinga. Pada hasil praktikum didapatkan data bahwa bakteri ternyata tumbuh paling banyak pada daerah belakang telinga. Hal ini disebabkan karena bagian-bagian tersebut jarang terkena sinar matahari sehingga suhu bagian tubuh tersebut lebih lembab dibandingkan bagian tubuh yang lain dan tempatnya yang tersembunyi. Akan tetapi terdapat sebuah data yang menunjukkan pertumbuhan mikroba paling banyak pada daerah pipi. Hal ini terjadi karena struktur kulit setiap orang berbeda-beda sehingga kemungkinan tempat tumbuh mikroba itupun juga bisa berbeda.

IV. KESIMPULAN

  1. Sterilisasi berfungsi untuk membebaskan peralatan atau bahan dari mikroorganisme yang tidak dikehendaki.
  2. Metode-metode sterilisasi yang digunakan yaitu sterilisasi secara fisika (sinar UV), secara kimia (dengan menggunakan alkohol, antibakterial,sabun) dan sterilisasi dengan swab.
  3. Keefektifan sterilisasi dengan sinar UV dalam membunuh mikroba dipengaruhi oleh intensitas penggunaannya yang sesuai dengan bahan atau alat yang disterilkan. Keefektifan sterilisasi dengan bahan-bahan kimia dipengaruhi oleh waktu perendaman, temperatur media, PH, dan konsentrasi zat kimia.
  4. Sterilisasi dengan swab menunjukkan bahwa jumlah mikroba paling banyak pada belakang telinga. Hal ini disebabkan bagian tubuh tersebut jarang terkena sinar matahari, sehingga suhu bagian tubuh tersebut lebih lembab dibandingkan bagian tubuh yang lain dan tempatnya yang tersembunyi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Dwidjoseputro, D.2003. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta

Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Jawetz,E., J. L. Melnick, dan E.A. Adelberg. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta.

Pratiwi, Sylvia T.2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga.Bandung

Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Program Studi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi F. MIPA UNUD. Bukit Jimbaran.

Waluyo, Lud. 2004. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.

Permalink Leave a Comment

Laporan Assei Mikrobiologi

May 21, 2010 at 2:28 pm (Mikrobiologi)

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

ASSEI MIKROBIOLOGI

Oleh:

Nama                        : I Gede Dwija Bawa Temaja

Nim                            : 0808505031

Kelompok                 : II

Tanggal Praktikum : 19 April 2010

Asisten                      : I Putu Oka Permana

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2010

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Craig., 1998). Berdasarkan sifatnya antibiotik dibagi menjadi dua; antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap bakteri dan antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri (Van Saene., 2005).

Berdasarkan mekanisme kerjanya dapat dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: pengganggu metabolisme sel mikroba (sulfonamid, trimetoprin, asam p-aminosalisilat (PAS), dan Sulfon.), penghambat sintesis dinding mikroba (penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin), pengganggu permeabilitas membran sel mikroba (polimiksin, golongan polien serta berbagai antimikroba kemoterapeutik) penghambat sintesis protein sel mikroba (golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, dan kloramfenikol), penghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba (rifampisin, dan golongan kuinolon) (Jawetz et.al. 2005).

Uji potensi antibiotika dilakukan dalam dua metode yaitu metode kertas saring (Kirby and Bauer) dan metode d’Aubert. Metode kertas saring menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan menggunakan zat-zat kimia seperti fungisida, bakterisida, dan insektisida. Dengan perlakuan fisik seperti dengan sinar UV, pemanasan yang tinggi, serta dengan perlakuan biologi seperti menggunakan mikroorganisme lain sebagai antagonis. Metode d’Aubert yaitu metode yang digunakan untuk memeriksa kadar anibiotika dalam bahan makanan sebagai bahan pengawet (Ramona dkk., 2007)

1.2 Tujuan

  1. Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam assei mikrobiologi.
  2. Untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi pada antibiotika terhadap efektifitas kerja antibiotika.
  3. Untuk mengetahui antibiotika yang tepat dalam membunuh bakteri.

II. MATERI DAN METODE

Praktikum kali ini dilakukan dengan menggunakan enam jenis antibiotik yaitu Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracyclin, Chloramphenicol, dan Ampicilin. Dalam metode kertas saring, medium NA tegak dicairkan dalam penangas air dan didinginkan sampai suhu 400 C. dua buah cawan petri disiapkan dengan bagian bawahnya dibagi menjadi empat bagian dan diberi label kontrol, 100 ppm, 1.000 ppm, dan 10.000 ppm. Sebanyak 1 ml suspensi bakteri E. coli dimasukkan ke dalam cawan petri dan 1ml suspensi bakteri Staphylococcus aureus pada cawan petri yang lainnya. Medium NA dituangkan ke dalam masing-masing cawan petri yang telah berisi suspensi bakteri, digoyangkan agar merata dan dibiarkan membeku. Cakram kertas saring yang telah direndam dalam larutan antibiotika diletakkan masing-masing pada permukaan medium yang telah membeku sesuai dengan konsentrasinya. Diinkubasi pada suhu 30-320C selama 24 jam. Diamati dan diukur daerah (zona bening) di sekitar kertas cakram. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pengukuran.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel Pengamatan Bio Assei

No Jenis Antibiotik Konsentrasi
100 ppm 1.000 ppm 10.000 ppm Kontrol
S E S E S E S E
1 Eritromycin 0 1,67 0,83 1,78 0,93 1,82 0 0
2 Amoxicilin 0 0 1,37 0 5,07 1,57 0 0
3 Bactoprim 0 0 1,73 0 2,03 1,33 0 0
4 Tetracyclin 2,1 0 2,87 0 4,27 1,35 0 0
5 Chloramphenicol 1,23 0 1,3 1,56 2,8 2,4 0 0
6 Ampicilin 0 0 2,33 0 4,00 0 0 0

Ket: S = Staphylococcus aureus, E= E. coli

3.2 Pembahasan

Praktikum assei mikrobiologi untuk menentukan keefektifan suatu antibiotik terhadap mikroorganisme dilakukan dengan menggunakan enam jenis antibiotika yaitu Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracyclin, Chloramphenicol, dan Ampicilin. Konsentrasi keenam antibiotik ini dibuat berbeda-beda yaitu mulai dari kontrol, 100 ppm,           1.000 ppm, dan 10.000 ppm untuk mengetahui pengaruh kadar antibiotik terhadap daya kerjanya. Semakin rendah konsentrasi dari antibiotik maka daya hambatnya akan semakin lemah sehingga zona yang terbentuk akan semakin kecil dan semakin tinggi konsentrasi antibiotik, maka semakin kuat daya hambatnya sehinnga semakin besar zona bening yang terbentuk (Dwidjoseputro., 2003). Jenis bakteri yang diuji dalam praktikum kali ini adalah E. coli (bakteri gram negatif) dan Staphylococcus aureus (bakteri gram positif).

Uji potensi antibiotik eritromycin menunjukkan hasil tidak adanya zona bening pada kontrol E.coli maupun Staphylococcus aureus. Sedangkan zona bening dalam konsentrasi 100 ppm, 1.000 ppm, dan 10.000 ppm pada bakteri E.coli berturut-turut adalah seluas     1,67 cm, 1,78 cm, dan 1,82 cm. Sedangkan pada Staphylococcus aureus berurut-turut adalah 0 cm, 0,83 cm, dan 0,93 cm. Berdasarkan data yang diperoleh ini, maka dapat disimpulkan bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk (Dwidjoseputro., 2003). Eritromycin bekerja bakteriostatis terhadap terutama bakteri gram positif. Mekanisme kerjanya yakni melelui pengikatan reversible pada ribosom kuman, sehingga sintesa proteinnya dirintangi (Tjay dan Rahardja., 2008). Akan tetapi dari hasil praktikum yang diperoleh justru menunjukkan bahwa daya hambatnya lebih luas pada bakteri E. coli yang merupakan bakteri gram negatif. Hal ini kemungkinan karena telah terjadinya resistensi bakteri Staphylococcus aureus terhadap eritromycin yang disebabkan pemberian antibiotik ini yang terlalu lama dan sering, sehingga timbul resistensi             (Tjay dan Rahardja., 2008).

Uji potensi antibiotik amoxicilin menunjukkan hasil tidak adanya zona bening pada kontrol E.coli maupun Staphylococcus aureus. Hal ini juga terjadi pada konsentrasi 100 ppm dimana pada kedua bakteri tidak terdapat zona bening. Hal ini menunjukkan bahwa antibiotik amoxicilin cenderung tidak memberikan efek daya hambat pada konsentrasi yang rendah. Pada konsentrasi 1.000 ppm telah menunjukkan adanya zona bening seluas 1,37 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan masih belum memberikan daya hambat pada E. coli. Pada konsentrasi 10.000 ppm zona bening terdapat pada E.coli maupun Staphylococcus aureus dengan luas berturut-turut adalah 1,57 cm dan 5,07 cm. Berdasarkan data ini dapat dikatakan bahwa bakteri E. coli lebih resisten terhadap aktifitas antibiotik amoxicilin dibandingkan dengan bakteri Staphylococcus aureus karena memiliki zona hambat yang lebih kecil. Hal ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa antibiotika amoxicilin secara in vitro aktif melawan sebagian besar bakteri gram positif termasuk strain yang memproduksi penisilinase dan termasuk didalamnya Staphylococcus aureus (McEvoy et al., 2002). Amoxicillin merupakan salah satu turunan penisilin yang bekerja menghambat pembentukan dinding sel bakteri dengan cara mencegah penggabungan asam N-asetimuramat yang dibentuk di dalam sel ke struktur mukopeptide yang biasanya memberikan bentuk kaku pada dinding sel bakteri (Pelczar dan Chan., 2005). Mekanisme kerja amoxicillin terhadap Staphylococcus aureus adalah dengan menhambat biosintesis dinding sel, khususnya peptidoglikan (Lim., 1998) sedangkan pada E. coli jika dikenai obat ini akan membentuk tonjolan-tonjolan pada dinding selnya sehingga sitoplasma mengalir di dalamnya. Sel akan kehilangan sitoplasmanya karena lisis (Pelczar dan Chan., 2005). Hasil percobaan ini juga telah sesuai dengan pustaka yeng menyebutkan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003).

Uji potensi antibiotika bactoprim menunjukkan negatif terbentuknya zona bening pada kontrol dan konsentrasi 100 ppm pada kedua bakteri. Pada konsentrasi 1.000 ppm, terdapat zona bening seluas 1,73 cm pada bakteri Staphylococcus aureus namun belum ada zona bening pada bakteri E. coli. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening pada kedua bakteri dengan luas 2,03 cm pada Staphylococcus aureus dan 1,33 pada E. coli. Berdasarkan pustaka, maka hasil ini telah sesuai karena semakin tinggi konsentrasi, semakin besar pula zona hambatnya (Dwidjoseputro., 2003). Bactoprim mengandung Trimethoprim dan Sulfamethoxazole. Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat sintesis asam folat pada bakteri. Struktur sulfonamida mirip dengan para-aminobenzoic acid (PABA) dan bersaing dengan zat tersebut selama sintesis asam folat. Sulfamethoxazole  menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul Asam folat dan Trimetropim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari Asam dihidrofolat menjadi Tetrahidrofolat yang secara tidak langsung mengakibatkan penghambatan enzim pada siklus pembentukan asam folat (Anonim., 2010). Mikroba yang peka terhadap kombinasi antimikroba ini ialah termasuk Streptococcus aureus dan E. coli (Anonim., 2010).

Uji potensi antibiotika tetracyclin menunjukkan hasil negatif terbentuknya zona bening pada kontrol kedua bakteri. Pada konsentrasi 100 ppm terbentuk zona bening seluas 2,1 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak ada zona bening. Pada konsentrasi 1.000 ppm terdapat zona bening seluas 2,87 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak ada zona bening. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening seluas 4,27 pada Staphylococcus aureus dan 1,35 cm pada E. coli. Berdasarkan hasil ini bisa bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003). Selain itu, terlihat juga bahwa bakteri E. coli lebih resisten terhadap pemberian antibiotik tetracyclin karena diameter zona hambatnya lebih kecil. Dengan kata lain, tetracyclin lebih efektif untuk bakteri Staphylococcus aureus. Hasil ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa tetracyclin adalah salah satu antibiotika yang aktif melawan bakteri strain Staphylococcus dan bakteri E. coli merupakan salah satu jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik ini (McEvoy et al., 2002). Tetracyclin merupakan antibiotik berspektrum luas yang dapat menghambat sintesis protein. Tetracyclin memasuki mikroorganisme melalui difusi pasif dan sebagian melalui suatu proses transport aktif yang bergantung pada energi (Katzung., 2004). Mekanisme kerja dari tetracyclin adalah menghambat sintesis protein pada mikroba yang rentan  terhadap tetracyclin dengan cara menghambat ikatan aminoasil tRNA pada ribosom (McEvoy et al., 2002).

Uji potensi antibiotik pada chloramphenicol menunjukkan hasil negatif terbentuknya zona bening pada kontrol kedua bakteri. Pada konsentrasi 100 ppm terbentuk zona bening seluas 1,23 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak ada zona bening. Pada konsentrasi 1.000 ppm terdapat zona bening seluas 1,3 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli seluas 1,56 cm. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening seluas 2,8 pada Staphylococcus aureus dan 2,4 cm pada E. coli. Berdasarkan hasil ini bisa bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003). Dari hasil ini juga dapat dilihat bahwa chloramphenicol cukup efektif dalam menghambat pertumbuhan kedua bakteri. Hal ini telah sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa chloramphenicol merupakan antibiotik bakteriostatik berspektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif (Katzung., 2004). Mekanisme kerja dari chloramphenicol dalam melawan bakteri adalah dengan cara menghambat sintesis protein dengan cara berikatan dengan subunit 50s ribosomal dan berefek pada penghambatan pembentukan ikatan protein (McEvoy et al., 2002).

Uji potensi antibiotik pada ampicilin menunjukkan hasil negatif terbentuknya zona bening pada kontrol dan pada konsentrasi 100 ppm dari kedua bakteri. Pada konsentrasi 1.000 ppm terdapat zona bening seluas 2,33 cm pada Staphylococcus aureus sedangkan pada E. coli tidak terdapat zona bening. Pada konsentrasi 10.000 ppm terdapat zona bening seluas 4 cm pada Staphylococcus aureus dan tidak ada zona bening  pada E. coli. Berdasarkan hasil ini bisa bahwa data pengamatan telah sesuai dengan pustaka yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk   (Dwidjoseputro., 2003). Dari hasil ini juga dapat disimpulkan bahwa antibiotik ampicilin ini tidak efektif terhadap bakteri E. coli karena tidak adanya zona bening yang terbentuk pada selurug konsentrasi. Hal ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa ampicilin merupakan penisilin tahan asam dengan spektrum kerja yang luas meliputi banyak kuman gram negatif, efektif terhadap E. coli, H. influenza, Salmonella dan beberapa suku Proteus (Tjay dan Rahardja., 2008). Bakteri Staphylococcus aureus sebenarnya merupakan salah satu jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik ampicilin (Mc Evoy et al., 2002). Namun, apabila dibiakkan secara in vitro maka akan terjadi hal yang sebaliknya yaitu bakteri Staphylococcus aureus menjadi sedikit rentan terhadap antibiotik ampicilin                       (Mc Evoy et al., 2002). Perbedaan ini kemungkinan juga disebabkan karena terjadinya resistensi bakteri E. coli terhadap ampicilin yang disebabkan pemberian antibiotik ini yang terlalu lama dan sering sehingga timbul resistensi (Tjay dan Rahardja., 2008).

IV. KESIMPULAN

  1. Metode yang digunakan dalam assei mikrobiologi adalah metode kertas saring (Kirby dan Bauer) dan metode d’Aubert.
  2. Pengaruh komsentrasi antibiotika terhadap pertumbuhan bakteri adalah semakin besar konsentrasi dari antibiotika maka kemampuan antibiotika untuk menghambat atau membunuh bakteri akan semakin besar (efektifitas kerja antibiotia meningkat).
  3. Antibiotik yang dapat digunakan untuk membunuh bakteri antara lain adalah Eritromycin, Amoxicilin, Bactoprim, Tetracyclin, Chloramphenicol, dan Ampicilin.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2010. Kombinasi Antimikroba.

Available at  : http://www.medicastore.com/antibiotika/kombinasi_antimikroba.

Last opened  : 24 April 2010.

Craig, W.A. 1998. Choosing An Antibiotic On The Basis of Pharmacodynamics. Ear NoseThroat J. New England.

Dwidjoseputro, D. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.

Jawetz, Melnick, Adelberg’s. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta.

Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Lim, D. 1998. Microbiology 2nd Edition. McGraw Hill. United of States America.

Mc Evoy, G.K., J.L. Miller, J. Shick and E.D. Milikan. 2002. AHFS Drug Information. American Society of Health: USA.

Pelczar, M., E.C.S. Chan. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Tjay, Tann Hoan., Rahardja, Kirana. 2008. Obat-Obat Penting. Penerbit Elexmedia Komputindo. Jakarta.

Van Saene, H.K.F, Silvestri L, De la Cal MA. 2005. Infection Control In The Intensive Care Unit. 2nd ed. Springer. Milan.

Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Untuk Program Studi Farmasi F MIPA UNUD. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Jimbaran.

Permalink Leave a Comment

Laporan Pemeriksaan Kualitas Air

May 21, 2010 at 12:37 pm (Mikrobiologi) ()

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air merupakan materi esensial bagi kehidupan makhluk hidup, karena makhluk hidup memerlukan air untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Secara umum fungsi air dalam tubuh setiap mikroorganisme adalah untuk melarutkan senyawa organik, menstabilkan suhu tubuh dan melangsungkan berbagai reaksi kimia tingkat seluler (Campbell dkk., 2002). Pemeriksaan air secara mikrobiologi sangat penting dilakukan karena air merupakan substansi yang sangat penting dalam menunjang kehidupan mikroorganisme yang meliputi pemeriksaan secara mikrobiologi baik secara kualitatif maupun kuantitatif dapat dipakai sebagai pengukuran derajat pencemaran (Ramona dkk., 2007).
Pemeriksaan derajat pencemaran air secara mikrobiologi umumnya ditunjukkan dengan kehadiran bakteri indikator seperti coliform dan fecal coli (Ramona dkk., 2007). Ciri-ciri coliform yaitu bentuk batang, merupakan bakteri gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik atau anaerobik fakultatif yang memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam dan suhu 350 C (Pelczar dan Chan., 2006). Adanya bakteri coliform didalam makanan atau minuman menunjukkan adanya mikroba yang bersifat enteropatogenik yang berbahaya bagi kesehatan (Dwijoseputro., 2005).
Bakteri coliform dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu coliform fecal misalnya Escherichia coli dan coliform nonfecal misalnya Enterobacter aerogenes. E. Coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan E. aerogenes ditemukan pada hewan atau tumbuhan yang telah mati. Adanya E.coli pada air minum menandakan air tersebut telah terkontaminasi feses manusia dan mungkin juga mengandung patogen usus (Dwijoseputro., 2005). Uji kualitatif coliform secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji dugaan (Presumtive test), uji penetapan (confirmed test), dan uji pelengkap (completed test) (Ramona dkk., 2007).

1.2 Tujuan
1.Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam pemeriksaan kualitas air.
2.Untuk mengetahui jenis bakteri yang mencemari sampel.
3.Untuk mengetahui kualitas dari sampel air yang diujikan.
II. MATERI DAN METODE

Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah air PDAM, air isi ulang, air sumur, air sungai, sumber mata air, dan air tangki. Dalam uji dugaan, dipipet masing-masing 10 ml air sampel dan dimasukkan ke dalam 3 tabung reaksi yang telah berisi medium kaldu lactose konsentrasi ganda dan tabung durham. Sampel air dipipet kembali sebanyak 1 ml ke dalam 3 tabung reaksi yang berisi kaldu lactose konsentrasi normal dan tabung durham. Selanjutnya dipipet kembali sebanyak 0,1 ml air sampel ke dalam 3 tabung reaksi yang telah berisi kaldu lactose konsentrasi normal dan tabung durham. Seluruh tabung tadi diinkubasi pada suhu 370 C selama 24 jam. Hasil positif ditunjukkan oleh adanya gas dalam tabung durham.
Uji penetapan dilakukan dengan menginokulasikan tabung yang menunjukkan hasil positif ke dalam medium BGBB (Brliliant Green Bile 2% Broth) dengan cara mengambil 1 tetes menggunakan jarum ose. Medium BGBB yang telah diinokulasikan dengan suspensi bakteri yang tumbuh pada medium kaldu lactose selanjutnya diinkubasikan. Hasil positif ditunjukkan oleh adanya gas dalam tabung durham. Tabung yang telah menunjukkan hasil positif ini selanjutnya di gesekkan pada permukaan medium Endo Agar atau EMBA. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama 24 jam. Adanya bakteri golongan coli ditunjukkan dengan adanya koloni yang berwarna merah kehijauan mengkilat (hijau metalik).
Uji pelengkap dilakukan dengan menanam koloni golongan coli yang diisolasi dari medium Endo Agar atau EMBA pada uji penetapan dalam medium kaldu laktosa dan medium NA miring. Setelah itu diinkubasi pada suhu 370 C selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan pewarnaan gram dari bakteri yang tumbuh pada media miring. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya gas dalam medium kaldu laktosa dan dinding sel bersifat gram negatif serta sel berbentuk batang.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

No
Sampel
Coliform
MPN/100gr
E.coli
MPN/100gr

10
1
0,1

10
1
0,1

1
Air PDAM
3
2
3
210
0
0
0
0
2
Air Isi Ulang
3
2
0
93
0
0
0
0
3
Air Sumur
3
3
3
>1.100
0
0
0
0
4
Air Sungai
3
3
3
>1.100
0
0
0
0
5
Sumber Mata Air
3
3
3
>1.100
0
0
0
0
6
Air Tangki
3
3
3
>1.100
0
0
0
0

3.2 Pembahasan
Pemeriksaan kualitas air minum dilakukan untuk mengetahui apakah air tersebut layak digunakan sebagai air minum atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menguji enam sampel air yang berasal dari air PDAM, air isi ulang, air sumur, air sungai, sumber mata air, dan air tangki. Pengujian derajat pencemaran air secara mikrobiologi ditunjukkan dengan adanya bakeri indikator (coliform dan fecal coliform) dengan menggunakan tiga tahapan pengujian yaitu uji dugaan, uji penetapan, dan uji pelengkap. Air yang mengandung kurang dari 1 coliform per 100 ml merupakan golongan kelas I yang berarti air tersebut sangat baik untuk dikonsumsi. Nilai coliform 1-2 per 100 ml digolongkan pada kelas II yang berarti air tersebut baik dikonsumsi. Air dengan jumlah coliform 3-10 merupakan golongan air yang termasuk kelas III dan tidak baik dikonsumsi. Sedangkan jika nilai coliform lebih dari 10 per 100 ml, maka air tersebut sudah tidak boleh dikonsumsi lagi (Suriaman dan Juwita., 2008).
Pengamatan terhadap air PDAM menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform yang ditandai dengan adanya kekeruhan dan gas dalam tabung durham oleh karena di dalam medium tersebut terdapat mikroba pembentuk gas (Fardiaz S., 1992). Pada tabung dengan volume 10 ml sebanyak 3 tabung menunjukkan hasil positif, pada tabung dengan volume 1 ml sebanyak 2 tabung, dan pada tabung dengan volume 0,1 ml sebanyak 3 tabung. Berdasarkan pencocokan seri tabung yang positif mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada air PDAM per 100 ml adalah sebanyak 210 (210 MPN/100ml). Dari hasil ini dan dibandingkan dengan pustaka, maka air PDAM ini sudah tidak layak dikonsumsi lagi sebab mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Banyaknya coliform dalam air PDAM dapat disebabkan adanya bakteri yang dapat memfermentasi laktosa dengan membentuk gas, seperti bakteri asam laktat dan beberapa khamir tertentu (Fardiaz S., 1992). Proses pengolahan air yang kurang sempurna menyebabkan air PDAM ini terkontaminasi dengan bakteri. Setelah dilakukan uji dugaan, maka dilanjutkan dengan uji penetapan untuk melihat adanya bakteri E. coli dalam sampel. Dari hasil uji ini tidak ada yang menunjukkan hasil positif dalam medium EMBA yang ditandai dengan tidak adanya koloni yang berwarna hijau metalik. Penggunaan medium EMBA sebagai medium pertumbuhan adalah karena Etilen Metilen Blue Agar mencegah pertumbuhan bakteri gram positif sedangkan E.coli sendiri merupakan bakteri gram negatif sehingga hanya E. coli yang akan tumbuh dalam medium. Dalam kondisi asam, EMBA ini akan diabsorpsi oleh koloni gram negatif seperti E. coli.
Pengamatan terhadap air isi ulang memberikan hasil positif pada uji dugaan coliform yang ditandai dengan adanya kekeruhan dan gelembung gas pada 3 tabung volume 10 ml dan 2 tabung volume 1 ml. terbentuknya gelembung gas dalam tabung durham disebabkan karena adanya mikroba pembentuk gas (Fardiaz S., 1992). Berdasarkan pencocokan seri tabung yang positif mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada air isi ulang per 100 ml adalah sebanyak 93 (93 MPN/100ml). Hasil ini jika dibandingkan dengan pustaka maka bisa dikatakan bahwa air isi ulang ini sudah tidak layak dikonsumsi karena mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Masih tingginya angka organisme indikator dalam air menunjukkan bahwa air tersebut telah terkontaminasi secara fecal. Proses pemurnian air yang meliputi sedimentasi, filtrasi, dan klorinasi kurang sempurna menyebabkan air terkontaminasi dengan bakteri (Lim., 1998). Tingginya angka bakteri coliform ini kemungkinan disebabkan selain karena sejak awal air tersebut telah mengandung bakteri coliform, adalah karena botol yang digunakan untuk menampung air ini kurang steril sehingga air menjadi terkontaminasi. Dalam uji penetapan, sampel air isi ulang ini menunjukkan hasil negatif terhadap adanya E. coli yang dapat diliat dengan tidak adanya koloni bakteri yang berwarna hijau metalik. Dengan hasil ini maka air isi ulang ini seharusnya dilakukan uji kelayakan terlebih dahulu agar tidak membahayakan masyarakat yang mengkonsumsinya.
Pengamatan terhadap air sumur menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform. Hal ini ditandai dengan adanya kekeruhan dan gelembung gas dalam tabung durham pada seluruh tabung dari semua seri pengenceran. Timbulnya gas ini disebabkan karena kemampuan bakteri coliform yang terdapat pada sampel air dalam memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam dan pada suhu 350 C (Pelczar dan Chan., 2006). Air sumur termasuk air dibawah permukaan tanah dimana terdapat pori-pori tanah dan batuan yang jenuh air pada daerah ini karena dipengaruhi oleh proses penyaringan. Mikroorganisme tertahan oleh bahan partikulat dalam tanah yang berfungsi sebagai penyaring (filter). Dengan demikian besar kemungkinan perairan yang berada jauh di bawah tanah bebas dari mikroorganisme (Pelczar dan Chan., 2006). Akan tetapi, hasil dari pengamatan dalam praktikum ternyata memberikan hasil yang berbeda dimana setelah dicocokkan dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada air sumur per 100 ml adalah lebih dari 1.100 (> 1.100 MPN/100ml). Adanya bakteri coliform sebanyak lebih dari 1.100 MPN per 100 ml ini merupakan jumlah yang sangat banyak dan bila dikaitkan dengan pustakan adalah tidak bagus untuk dikonsumsi. Banyaknya jumlah bakteri coliform kemungkinan disebabkan karena air tanah mengandung zat-zat organik yang merupakan tempat baik bagi kehidupan organisme (Dwidjoseputro., 2005). Dalam uji penetapan didapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri golongan coli. Tidak terdapatnya E. coli pada air sumur disebabkan karena jumlah mikroba dalam air tanah lebih sedikit jika dibandingkan dengan air yang berada pada permukaan tanah (Black., 1999). Letak sumur yang tidak dekat dengan septic tank, kakus umum, perigi jamban, dan kandang ternak juga mempengaruhi tidak adanya bakteri E.coli
Pengamatan terhadap air sungai menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform yang ditandai dengan adanya kekeruhan dan gelembung gas dalam semua tabung seri pengenceran. Timbulnya gas ini disebabkan karena kemampuan bakteri coliform yang terdapat pada sampel air dalam memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam dan pada suhu 350 C (Pelczar dan Chan., 2006). Setelah dilakukan pencocokan tabung yang mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada air sungai per 100 ml adalah lebih dari 1.100 (> 1.100 MPN/100ml). Apabila hasil ini dikaitkan dengan pustaka maka air sungai ini berbahaya pabila dikonsumsi sebab mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Dari hasil uji penetapan, tidak ditemukan adanya bakteri E. coli yang dilihat dari tidak adanya koloni bakteri yang berwarna hijau metalik. Pada sampel air sungai seharusnya bakteri kontaminan relatif sedikit sebab air mengalir deras dan bergolak karena menerjang batu-batuan sehingga kurang baik bagi kehidupan bakteri (Dwidjoseputro., 2005). Banyaknya bakteri coliform ini kemungkinan disebabkan karena adanya pencemaran akibat pembuangan limbah ke sungai. Akan tetapi dalam sungai ini tidak terdapat E. coli yang berarti tidak tercemar oleh tinja baik itu dari manusia atau hewan. Air sungai merupakan air yang permukaan yang paling rentan terhadap pencemaran berkala oleh mikroorganisme dari atmosfer maupun limbah domestik (Pelczar dan Chan., 2006). Sehingga jumlah mikroba air permukaan lebih banyak jika dibandingkan dengan air tanah (Black., 1999).
Pengamatan terhadap air yang berasal dari sumber mata air menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform yang ditandai dengan terbentuknya gelembung gas dan kekeruhan yang disebabkan oleh adanya mikroba pembentuk gas dalam seluruh tabung semua seri pengenceran (Fardiaz S., 1992). Setelah dilakukan pencocokan tabung yang mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada sumber mata air per 100 ml adalah lebih dari 1.100 (> 1.100 MPN/100ml). Apabila hasil ini dikaitkan dengan pustaka maka sumber mata air ini berbahaya apabila dikonsumsi sebab mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Dalam uji penetapan didapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri golongan coli. Air dari sumber mata air semestinya tidak mengandung bakteri apapun karena belum terkontaminasi. Hal ini berarti sumber mata air ini telah terkontaminasi bakteri atau karena terjadi kontaminasi dalam pengambilan air dari sumber mata air ini. Akan tetapi, dalam uji penetapan mendapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri golongan coli. Hal ini terjadi karena sumber air ini letaknya jauh dari daerah septic tank sehingga tidak tercemar dari tinja.
Pengamatan terhadap air tangki menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform yang ditandai dengan terbentuknya gelembung gas dan kekeruhan yang disebabkan oleh adanya mikroba pembentuk gas dalam seluruh tabung semua seri pengenceran (Fardiaz S., 1992). Setelah dilakukan pencocokan tabung yang mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada air tangki per 100 ml adalah lebih dari 1.100 (> 1.100 MPN/100ml). Apabila hasil ini dikaitkan dengan pustaka maka air tangki ini berbahaya apabila dikonsumsi sebab mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Sedangkan berdasarkan hasil uji penetapan didapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri E. coli. Banyaknya bakteri coliform kemungkinan disebabkan oleh terkontaminasinya air tangki karena penyimpanan yang lama. Selain itu juga bisa disebabkan tangki tersebut dibiarkan terbuka sehingga rentan terhadap pencemaran berkala oleh mikroorganisme dari atmosfir (Pelczar dan Chan., 2006). Tidak adanya E. coli disebabkan karena letak tangki yang umumnya tinggi dan tertutup sehingga tidak mungkin terkontaminasi oleh tinja manusia.

IV. KESIMPULAN

1.Metode yang digunakan dalam pemeriksaan kualitas air adalah metode MPN (Most Probable Number) sebab metode ini dapat mendeteksi koliform dalam jumlah yang sangat rendah.
2.Jenis bakteri yang mencemari semua sampel adalah berasal dari bakteri coliform, tidak terdapat pencemaran akibat adanya bakteri Escherichia coli.
3.Kualitas air pada sampel yang diuji adalah tidak layak digunakan sebagai air minum sebab jumlah coliformnya sangat banyak pada seua jenis air sampel sehingga akan berbahaya bila diminum.

DAFTAR PUSTAKA

Black, J.G. 1999. Microbiology Principles and Exploration 4th Edition. Prentice-Hall Inc. New Jersey.
Campbell, N. A., J.B. Reece, L.G. Mitchell. 2002. Biologi Jilid 2 edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi Cetakan ke-13. Percetakan Imagraph. Jakarta.
Fardiaz, S. Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Lim, D. 1998. Microbiology 2nd Edition. McGraw Hill. United States of America.
Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta.
Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Untuk Program Studi Farmasi FMIPA UNUD. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran.
Suriaman, E., Juwita. 2008. Uji Kualitas Air.
Available at : http://www.icel.or.id/uji_kualitas_air.
Opened at : 17 April 2010

Permalink Leave a Comment

Pencegahan Malaria

May 21, 2010 at 12:19 pm (Kesehatan) ()

1.Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu berinsektisida.
2.Mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (repellent).
3.Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya.
4.Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
5.Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.
6.Mencegah penderita malaria dan gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar.
7.Membersihkan tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk.
8.Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta genangan air.
9.Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obat anti larva (bubuk abate) pada genangan air atau menebarkan ikan atau hewan (cyclops) pemakan jentik.
10.Melestarikan hutan bakau agar nyamuk tidak berkembang biak di rawa payau sepanjang pantai.
11.Usaha pengobatan pencegahan secara berkala, terutama di daerah endemis malaria.
12.Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan ruang tidur, semak-semak sekitar rumah, genangan air, dan kandang-kandang ternak.
13.Memperbanyak jumlah ternak seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci dengan menempatkan mereka di luar rumah di dekat tempat nyamuk bertelur.
14.Memelihara ikan pada air yang tergenang, seperti kolam, sawah dan parit. Atau dengan memberi sedikit minyak pada air yang tergenang.
15.Menanam padi secara serempak atau diselingi dengan tanaman kering atau pengeringan sawah secara berkala
16.Menyemprot rumah dengan DDT

Pencegahan dengan obat. Obat yang biasa digunakan adalah klorokuin difosfat, karena obat ini efektif terhadap semua jenis parasit malaria. Aturan pemakaiannya adalah :

Pendatang sementara ke daerah endemis, dosis klorokuin adalah 300 mg/minggu, 1 minggu sebelum berangkat selama berada di lokasi sampai 4 minggu setelah kembali.
Penduduk daerah endemis dan penduduk baru yang akan menetap tinggal, dosis klorokuin 300 mg/minggu. Obat hanya diminum selama 12 minggu (3 bulan).
Semua penderita demam di daerah endemis diberikan klorokuin dosis tunggal 600 mg jika daerah itu plasmodium falciparum sudah resisten terhadap klorokuin ditambahkan primakuin sebanyak tiga tablet.

Permalink Leave a Comment